KyaiPedia: KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo, Sang Pendekar Pagar Nusa

KyaiPedia: KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo, Sang Pendekar Pagar Nusa

Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji. Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding.

Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren. Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal.</p>

Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”.
Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Bertarekat

Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Bertarekat

Tegal, NU Online
Banyak cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, salah satunya dengan menggabungkan diri ke dalam jamaah tarekat dan mengikuti berbagai kegiatannya. Seperti yang dilakukan oleh jamaah Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya yang dibimbing oleh oleh Mursyid KH A Shohibul wafa Tajul Arifin atau yang lebih dikenal dengan nama Abah Anom dari Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat.

Amalan yang dilakukan secara berjamaah itu, terdiri dari beberapa jenis amalan rutin. Mulai dari amalan harian, mingguan, serta bulanan . Seperti yang digelar Masjid Pondok Pesantren Miftahul Janah Desa Grobog Kulon Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal, Ahad (29/5) kemarin. Amalan berupa manaqib itu dilaksanakan setiap bulan, yang kebetulan berbarengan dengan manaqib rutin tingkat korwil Jawa Tengah.
Shalawat Habib Syech untuk Negeri Damai

Shalawat Habib Syech untuk Negeri Damai

Magelang, NU Online
Ketika syair “Sholatun bi salamil mubin” didendangkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, sekitar 20 ribur orang lebih serentak mengikuti alunan syairnya. Halaman Masjid Agung, Alun-alun Kota Magelang menjadi lautan manusia yang berbaju putih, Sabtu (28/5).

Habib Syeh mengangkat tangannya, tanpa dikomando para Syechkres (pecinta shalawat Habib Syech) dan para jamaah majelis ta’alim Magelang Bershalawat menirukan syairnya, "Sholatun bi salamil mubini linuqhotit ta'yii ni ya ghoroomii. Nabiyyuna kaana ashlattak wiini min ahdi kun fayakuunu yaa ghoroomii."

Yang maknanya kurang lebihnya begini, "Shalawat serta salam kupersembahkan kepadamu wahai kekasihku. Sebagai bukti keteguhanku, wahai Nabi Muhammad SAW (kekasihku)."

Seraya melantunkan syair itu, bendera warna-warna dikibarkan. Bendera yang dikibarkan para jamaah antara lain bendera merah putih, NU, Syechkres, OI (orang Indonesia), Muhammadiyah, kelompok pengajian, bendera bertuliskan Allah dan Muhammad. Merah, biru, putih, kuning, ungu bendera yang mereka kibarkan tak menjadi sebuah perbedaan. Semua larut dalam kebersamaan, satu hati mendendangkan syair-syair kecintaan dan kerinduan umat manusia kepada Rasulullah.

Sepanjang acara, bendera-bendera itu tak pernah berhenti, terus bergerak dikibarkan seperti menjadi sebuah semangat untuk mencintai Rasulullah, Indonesia dan sesama manusia. Anak-anak, remaja dan orang tua mendendangkan shalawat untuk keselamatan dunia dan akhirat. Sesuai dengan tema malam itu yakni, Magelang Bershalawat Doa untuk Kedamaian dan Keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Disela-sela bershalawat Habib Syech juga memberikan uraian hikmah. Dia mengajak seluruh umat manusia untuk intropeksi diri, jadilah seperti akar. Karena akar adalah unsur pohon yang memiliki ketulusan dalam menjalani mata rantainya. Meski akhirnya yang mendapatkan sanjungan adalah buah dari pohon itu.

"Menirulah Rasulullah meski berbeda keyakinan dan agama beliau menghormati mereka. Bahkan Beliau mendoakan mereka yang bersebrangan dan memusuhinya," katanya.

Menurutnya, hal yang paling sederhana mudah dilakukan adalah senyum dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan sembari mengucapkan salam. Jangan sampai kalah dengan semut, setiap kali berpapasan dengan temannya selalu bersalamanan.
Ciptakan Kedamaian dengan Membumikan Sikap Tasamuh

Ciptakan Kedamaian dengan Membumikan Sikap Tasamuh

Sukoharjo, NU Online
Indonesia damai, aman, dan sejahtera tentulah merupakan cita-cita semua warga bangsa. Oleh karena marilah satukan keinginan dan bulatkan tekad untuk terus berusaha menciptakan kedamaian dengan ‘membumikan’ sikap tasamuh (toleransi/tepo seliro) dalam beragama, berbangsa dan bernegara.

Demikian disampaikan Ketua PC NU Sukoharjo, HM Nagib Sutarno, menyinggung maraknya berbagai aksi-aksi kekerasan yang berdalih untuk menegakkan agama di tanah air. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hasan Sukoharjo itu berharap agar para tokoh agama tidak terjebak dalam usaha-usaha politisasi dan kekerasan.
Lembaga Wakaf NU Jalin Kerjasama Wakaf Uang dengan BNI Syariah

Lembaga Wakaf NU Jalin Kerjasama Wakaf Uang dengan BNI Syariah

Jakarta, NU Online
Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU (LWPNU) melakukan penandatanganan kerjasama dengan BNI Syariah dalam pengelolaan dana wakaf uang, yang produk baru dalam melakukan wakaf, yang selama ini hanya diidentikkan dengan wakaf tanah.

Penandatanganan kerjasama ini dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Direktur Utama BNI Syariah Rizqullah di gedung PBNU, Senin (30/5).

Kang Said menyatakan bahwa kerjasama dengan NU sangat tepat karena masih banyak warga NU yang memerlukan dukungan untuk bisa menjadi sejahtera. “Kalau membantu organisasi lain, perjuangannya sedikit lagi sudah selesai, tetapi kalau membantu NU, perjuangannya masih panjang sehingga lebih bermanfaat,” katanya.
Sekjen Ansor: Banser siap tumpas teroris

Sekjen Ansor: Banser siap tumpas teroris

Jakarta, NU Online
Banser atau barisan serbaguna adalah tentara yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU), karenanya apapun yang terjadi pada diri NU baik ancaman maupun upaya kelompok lain untuk merongrong NU, Banser harus tampil menjadi garda terdepan dalam membentengi NU.

"Jadi, masuk Ansor atau Banser berarti jiwa raga sudah siap untuk NU," ujar Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor M Aqil Irham saat membuka acara diklatsar Banser yang digelar Satkorcab Banser bersama Pengurus Cabang Ansor Jakarta Utara, Senin, (30/5).

Hadir dalam acara pembukaan diklat Banser yang digelar selama tiga hari itu, Sekjen GP Ansor mewakili Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Ketua Cabang Ansor Jakut Abdul Azis, Komandan Satkorcab Banser Jakut Supriyadi, Pengurus Cabang NU Jakut dan 200 peserta diklat Banser dari berbagai cabang dan rayon di Jakarta Utara.

Lebih lanjut Aqil Irham mengatakan, semua peserta jangan kuatir kalau sudah menjadi Ansor atau Banser anda dijadikan teroris. Justru sebaliknya kata Aqil, andalah yang akan menumpas teroris itu. Selain itu katanya, masuk Ansor berarti anda akan menemukan kedamaian dan ketentraman, karena NU selalu identik dengan kedamaian, menghormati budaya lokal dan rahmat bagi kita semuanya. “Sekali lagi, Banser tidak mengenal paksaaan dan kekerasan,” kata Sekjen.

Sementara itu, Komandan Satkorcab Jakarta Utara Supriyadi mengatakan, tema besar yang kami angkat dalam diklat kali ini adalah “Membentuk generasi Banser yang militan sebagai Banser perkotaan”, sesuai dengan tema inilah para peserta diharapkan benar-benar menjadi kader Banser yang militan dan solid terhadap NU. “Terpenting adalah memperaktikan apa yang sudah didapat dari diklat,” ujarnya.
Gerakan Syiah di Indonesia

Gerakan Syiah di Indonesia

Oleh H. As’ad Said Ali (Wakil Ketua PBNU)

Syi’ah yang berkembang di Indonesia dapat dibedakan kedalam dua corak, yakni Syi’ah politik, dan Syi’ah non-politik. Syi’ah politik adalah mereka yang memiliki cita-cita politik untuk membentuk negara Islam, sedangkan Syi’ah non-politik mencita-citakan membentuk masyarakat Syi’ah. Syi’ah politik aktivitasnya menekankan pada penyebaran ide-ide politik dan pembentukan lapisan intelektual Syi’ah, sedangkah Syiah non-politik menekankan pada pengembangan ide-ide fikih Syi’ah.

Syi’ah non-politik atau Syi’ah fikih masuk ke Indonesia sejak awal abad 19, yang dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat, India, dan ulama-ulama dari Hadramaut. Salah satu tokohnya yang membawa masuk ke Indonesia adalah Habib Saleh Al-Jufri, mantan panglima perang Syarif Husen, kakek dari Raja Husen Yordania, yang dikalahkan oleh Abdul Aziz, bapak dari Raja Abdullah Arab Saudi. Syi’ah yang mereka bawa ke Indonesia pada gelombang ini adalah Syi’ah Zaidiyah. Pada awalnya cara dakwahnya dilakukan secara individu-individu, kemudian, sejak kemerdekaan beberapa tokoh dari mereka membentuk pesantren, salah satunya adalah Husen Al-Habsyi, mendirikan Pesantren YAPI di Bangil, Jawa Timur.
Pendaftaran Online Beasiswa S2 Kemenag Berakhir 31 Mei

Pendaftaran Online Beasiswa S2 Kemenag Berakhir 31 Mei

Pendaftaran Online beasiswa Pascasarjana (S2) Kementerian Agama (Kemenag) untuk para kader pesantren dibuka pada 25 April 2011 lalu dan berakhir hingga 31 Mei 2011 besok.

Berkas dan print out formulir diajukan kepada panitia penerimaan calon peserta beasiswa S.2 selambat-lambatnya hari Rabu, 8 Juni 2011 Cap Pos. Namun para calon peserta tetap harus menyetorkan formulir pendaftaran (tanpa berkas) melalui fax ke 021-3850244 dan dikirim via email panitia subdit_diniyah@yahoo.com paling lambat 31 Mei 2011.

Program ini bertajuk “Beasiswa S2 Kader Ulama” Kementerian Agama (Kemenag) RI yang dilaksanakan oleh Dirjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Pada 2011 ini program dikonsentrasikan pada kajian Aqidah Filsafat.

Calon peserta yang merupakan para kader pesantren harus mendapatkan rekomendasi dari salah satu pondok pesantren serta hafal al-Qur’an minimal 3 juz. Para peserta beasiswa yang lolos seleksi akan memperoleh biaya pendidikan penuh hingga lulus S2 ditambah biaya hidup selama proses pendidikan berlangsung.

Program ini akan dilaksanakan di Kampus yang menyelenggarakan Ma'had Aly. Namun lokasi pastinya sampai saat ini belum dipastikan.
Bahtsul Masail Santri Haramkan Ijazah Hasil Contekan

Bahtsul Masail Santri Haramkan Ijazah Hasil Contekan

Jombang, NU Online
Bagaimana hukum penggunaan ijazah yang dihasilkan dari UN (Ujian Nasional) yang sarat dengan kecurangan untuk mendapatkan pekerjaan? Bahtsul Mas'il FMPP (Forum Musyawarah Pondok Pesantren) se-Jawa Madura yang bertempat di Pondok Pesantren (Ponpes) Tambakberas Jombang, memutuskan hal itu haram.

Masalah ijazah tersebut dibahas di komisi B. Pembahasan itu, terbilang alot. Pasalnya, masih-masing perwakilan pondok pesantren ada yang sepakat dan ada juga yang sebaliknya. Sejumlah kitab kuning pun dimunculkan sebagai referensi.

"Akhirnya kita memutuskan penggunaan ijazah tersebut tidak diperbolehkan. Karena tindakan tersebut termasuk kebohongan," kata Ketua FMPP, H Iffatul Latoif Zainudin, saat mempresentasikan hasil Bahtsul Masa'il, Kamis (26/5//2011) malam.
Peta Arah Kiblat Lajnah Falakiyah PBNU

Peta Arah Kiblat Lajnah Falakiyah PBNU

I. Dasar
Hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (QS. Al-Baqarah : 144, 149, 150) yang didalamnya terdapat Ka’bah. Qiblat terletak antara masyriq dan maghrib (HR. At-Turmudzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah). Jelasnya al-bait (Ka’bah) adalah qiblat bagi orang yang sholat di Masjidil Haram; Masjidil Haram adalah arah qiblat bagi orang yang berada di Tanah Haram (Makkah); Tanah Haram (Makkah) adalah arah qiblat bagi penduduk dunia dari umatku yang berada di belahan dunia timur dan belahan dunia barat (HR. Al-Baihaqi dari Abu Hurairah).

II. Arah Qiblat yang benar
Secara geografis/astronomis kota Makkah yang menjadi arah qiblat penduduk dunia terletak pada 39o49’34” LU dan 21o25’21” BT. Qiblat ini dari Indonesia berada pada arah barat laut (barat serong ke kanan) dengan ukuran derajat bervariasi antara 21o – 27o sesuai dengan koordinat (garis lintang dan garis bujur) dari masing-masing daerah di Indonesia. Contoh: Banda Aceh (22o08’13”), Pontianak (22o44’37”), Palembang (25o36’33”), Jakarta (25o08’31”) dan Merauke (20o09’06”). Lebih jelasnya lihat peta arah qiblat.

III. Arah Qiblat yang salah
Arah ke barat bukanlah arah qiblat yang benar, karena tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Menghadap ke arah barat berarti melenceng dari Makkah ke selatan di benua Afrika sejauh ribuan kilometer (lihat peta arah qiblat):

a. Semua wilayah Indonesia yang terletak pada Lintang utara 3o47’ dan seterusnya (ke utara), bila menghadap ke barat lurus dengan Negara Ethiopia.
Contoh: dari Banda Aceh (5o33’13” LU) menghadap ke barat lurus dengan Negara Ethiopia; Ini berarti dari Makkah melenceng ke selatan sejauh 1750 km.

b. Semua wilayah Indonesia yang terletak pada 4o39’ LS sampai 3o47’ LU, bila menghadap ke barat lurus dengan Negara Kenya.
Contoh :
1. Dari Pontianak (Katulistiwa) menghadap ke barat lurus dengan Negara Kenya; Ini berarti dari Makkah melenceng ke selatan sejauh 2367 km.
2. Dari Palembang (2o59’27” LS) menghadap ke barat lurus dengan Negara Kenya; Ini berarti dari Makkah melenceng ke selatan sejauh 2697 km.

c. Semua wilayah Indonesia yang terletak pada 4o39’ LS dan seterusnya (ke selatan), bila menghadap ke barat lurus dengan Negara Tanzania (Lautan).
Contoh :
1. Dari Jakarta (6o10’31” LS) menghadap ke barat lurus dengan Lautan Negara Tanzania; Ini berarti dari Makkah melenceng ke selatan sejauh 3049 km.
2. Dari Merauke (8o28’53” LS) menghadap ke barat lurus dengan Lautan Negara Tanzania; Ini berarti dari Makkah melenceng ke selatan sejauh 3305 km.

IV. Mengukur Qiblat
Dewasa ini mengukur qiblat tidaklah sulit, alat untuk mengukur qiblat antara lain menggunakan tongkat Istiwa’, Theodolite dan Roshdul Qiblat.
Roshdul qiblat adalah peristiwa matahari benar-benar di atas Ka’bah, sehingga segala sesuatu yang berdiri tegak bayangannya menuju Ka’bah. Roshdul Qiblat terjadi setahun sebanyak 2 kali: Mei dan Juli.

V. Isu Pergeseran Arah Qiblat
Isu pergeseran arah qiblat akibat gempa/tsunami menurut penelitian Litbang LF PBNU tidaklah benar, kalaupun ada masjid/musholla arah qiblatnya kurang tepat, hal ini tidak lebih dari pengukuran arah qiblat yang tidak akurat saat dimulainya pembangunan. Kesalahan ini cukup diperbaiki dengan meluruskan garis shaf sholat, tidak perlu dengan cara membongkar bangunannya.

Untuk melihat gambar/peta dengan ukuran lebih besar klik http://www.nu.or.id/oneMODUL/viewPhoto.php?bhs=id&idPhoto=1797
GP Ansor Pemalang, dari Barzanji hingga Ternak Sapi

GP Ansor Pemalang, dari Barzanji hingga Ternak Sapi

Pemalang, NU Online
Struktur keorganisasi boleh paling bawah. Wilayah geografis boleh di pucuk gunung. Tapi, cita-cita harus tinggi. Visi harus jauh ke depan. Dan gerakan harus berfaedah sebesar mungkin.

Demikianlah kredo yang tertanam di benak para aktivis GP Ansor Ranting Desa Mejagong, Kecamatan Randudongkal, Pemalang, Jawa Tengah. Belajar dari kelesuan berorganisasi akibat konflik dan urbanisasi kaum muda ke Jakarta, aktivis GP Ansor Mejagong berikhtiar bangkit, melalui diskusi, tahlilan, Barzanji hingga ternak sapi.


Nah, soal ternak sapi itulah yang membuat GP Ansor Mejagong istimewa. Dengan nama Paguyuban Makmur Jaya, kini para pemuda yang tinggal di bawah kaki gunung Slamet memiliki 15 ekor sapi dengan luas kandang 500 m2. Hamparan sawah, bendungan tua, sungai-sungai serta tradisi keagamaan yang kental menjadi lebih indah lagi dengan anak-anak muda yang mandiri secara ekonomi, melalui ternak sapi tadi.

Suatu saat, di Jumat siang, saya berkesempatan datang ke gubuk 3x2 meter, tempet nongkrong para aktivis Ansor yang bersebelahan dengan kandang sapi. Syair sholawat, surat Yasin, dan tahlil yang dilantunkan ibu-ibu terdengar sayup-sayup dari speaker mushola, penduduk setempat menyebutnya langgar.

Bersama empat aktivis, di gubuk berukuran 3x2 itu kami ngobrol ihwal pergerakan Ansor dan Paguyuban Makmur Jaya. Kusnanto (33 tahun) bergabung seusai memberi makan sapi-sapi.

Mulanya Keprihatinan
”Paguyuban Makmur Jaya berawal dari kegiatan-kegiatan rutin teman-teman Ansor Mejagong. Ansor di sini pertama berdiri sekitar tahun 1970-an. Mayoritas anggotanya waktu itu adalah alumni Pondok Pesantren di Pemalang dan beberapa daerah lain di Jawa Tengah,” ujar Kusnanto mulai bercerita.

”Aktivis yang santri itulah yang menyebabkan sejarah berdirinya Paguyuban Makmur Jaya barangkali berbeda dengan paguyuban tani lain di Pemalang,” sambungnya.

Latar belakang pesantren memang mewarnai hampir seluruh kegiatan Ansor. Sepertinya, mereka tidak bisa melakukan hal lain kecuali tahlilan, ratiban, barzanji dan rutinitas Nahdliyin pada umumnya menjadi. Tapi, kebersamaan dan kerjasama anggota terjalin kuat dalam tiap kegiatan. Itulah modal menjalankan roda organisasi, hingga kemudia GP Ansor Desa Mejagong memiliki grup marching band.

“Duit dikumpulkan dari seluruh anggota, swadaya, Kang,” ungkap Kusnanto.

Pada masa generasi awal, hampir seluruh pemuda desa bergabung ke dalam organisasi kepemudaan di bawah naungan NU tersebut. Namun, pada periode 1980-an, denyut GP Ansor melemah karena banyak anak muda mulai merantau ke Jakarta untuk mencari pengalaman. Bukan hanya Ansor, desa pun sepi dari anak muda.

Kondisinya bertambah parah saat memasuki periode tahun 1990-an, ketika semangat merantau untuk mencari pengalaman bergeser menjadi semangat memenuhi kebutuhan hidup.

Desa semakin sepi ditinggalkan sebagian besar pemuda. GP Ansor terkena imbasnya. Pengajian semakin berkurang intensitasnya. Dan alat-alat marching band yang susah payah diusahakan terbengkalai.

Puncaknya tahun 1999. Anggota Ansor Mejagong hanya tinggal 20 orang. Penyebab utamanya adalah perpecahan elit-elit partai politik di Jakarta, utamanya antara PPP dan PKB. Selain itu, perhatian PC NU kabupaten Pemalang terhadap politik praktis lebih besar ketimbang organisasi. Akibatnya kaderisasi organisasi, terutama kaum muda, menjadi terbengkalai. Imbasnya sangat terasa di Mejagung, kepengurusan GP Ansor terbelah dua. Satu makmum PPP. Satunya dukung PKB.

Rutinitas Tingkatkan Kualitas
Tahun 2005, kegelisahan anggota GP Ansor Mejagong pada perpecahan warga Nahdliyin memunculkan gagasan untuk menyatukan kembali visi dan gerakan warga, terutama pemuda Nahdliyin.

Berbagai agenda rutin keagamaan yang menjadi ikon Nahdliyin digalakkan kembali. Kegitan rutin keagamaan selanjutnya diberi nuansa baru yang lebih kritis, semacam diskusi. Kegiatan ini diprakarsai Abdul Hakim (33 tahun), anak muda lulusan STAIN Pekalongan dan alumni Pesantren Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah.

Diskusi dilakukan pada akhir kegiatan rutin, misalnya setelah Manaqiban (membaca Manaqib Syeikh Abdul Qodir Jailani, red.). Isu yang dibahas dalam diskusi biasanya terkait cara pandang agama terhadap masalah kemanusiaan, keorganisasian dan kondisi sosial masyarakat lokal. Diskusi yang dilakukan sebulan sekali tersebut, sesekali mendatangkan pemateri dari luar desa. Intelektual muda NU, Ellyasa KH Darwis beberapa kali menyempatkan waktu berdiskusi di sana.

Kegiatan diskusi itu menarik minat pemuda di luar aktivis Ansor, dan anggota pun mulai bertambah lagi. “Anggota baru bukan saja berasal dari simpatisan PPP dan PKB, termasuk dari PAN,” jelas Zaenal Abidin sambil tersenyum.

Rasa persatuan, kerjasama dan cara pandang terhadap agama yang lebih kritis mulai tumbuh kembali di kalangan muda Nahdliyin. Aktivitas-aktivitas sosial bangkit.

”Kami pernah berjama’ah pembangunan rumah salah seorang janda tua yang menghabiskan anggaran Rp. 6.000.000 pada tahun 2006. Agenda santunan anak yatim, dilaksanakan setahun sekali dan masih bertahan hingga sekarang,” ujar Zaenal.

Seluruh biaya kegiatan sosial pembangunan adalah hasil patungan anggota dan bantuan pemuda desa yang bekerja di Jakarta. Respon positif berdatangan dari seluruh warga desa. Yang Nahdliyin atau bukan, semua tertarik berpartisipasi.

Saat itulah, GP Ansor mengemukakan pemikiran membangun basis ekonomi desa. ”Basis ekonomi penting disiapkan, mengingat ketergantungan pada bantuan warga desa yang merantau ke Jakarta cukup tinggi. Dan sebagian anggota tidak masih kerja serabutan,” kata Zaenal.

Usaha sablon sempat menjadi pilihan, namun tidak bertahan lama. Usaha yang dimulai tahun 2006 hanya mampu bertahan setahun. Kendalanya pemasaran dan persaingan dengan pengusaha lain yang jauh lebih mapan.

Tahun 2009 dimulai bisnis baru berupa peternakan sapi. Modal didapat dari hasil patungan anggota. Waktu itu terkumpul dana sekitar Rp. 9.000.000. Jumlah tersebut ternyata sanggup mendatangkan 3 ekor sapi untuk dijadikan peliharaan.

Kandang sapi dibuat di atas sebidang tanah milik salah satu anggota, Ahmad Zubaidi (40). Namun hasil yang diharapkan dari penjualan sapi, yang dipelihara selama satu tahun, tidak memuaskan. Faktor pengetahuan dan pengalaman menjadi penyebab utamanya.
NII Menyusup ke PP Muslimat

NII Menyusup ke PP Muslimat

Surabaya, NU Online
Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menyatakan, Pimpinan Pusat Muslimat telah disusupi faham Negara Islam Indonesia (NII).

"Di pengurus (muslimat) juga ada. Saya sendiri juga kaget. Dia salah satu pengurus harian, wakil sekretaris yang juga seorang dosen dan doktor," kata Khofifah saat Harlah ke-65 Cabang Muslimat NU Surabaya di Taman Bungkul Jalan Raya Darmo, Surabaya, Selasa (24/5).

Menurut dia, salah satu pengurus harian Muslimat itu menyampaikannya sendiri pengakuannya itu. Dia juga baru menyadari ternyata anak dan keponakannya juga mengikuti faham NII.

Khofifah tidak lantas memberikan sanksi kepada sang pengurus karena semuanya melalui proses di luar kesadarannya atau sepertinya ada yang mengajak mereka melalui alam bawah sadar.

"Kami juga tidak melakukan rehabilitasi karena itu pengalamannya dulu," katanya.
NU akan Bantu Upaya Perdamaian di Siprus

NU akan Bantu Upaya Perdamaian di Siprus

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan fihaknya siap membantu melakukan upaya perdamaian di Siprus yang sekarang terbelah menjadi Siprus Utara, yang dikuasai oleh etnis Turki dan Sipus Selatan, yang dikuasai oleh etnis Yunani.

Pernyataan ini disampaikan ketika menerima kunjungan Dubes Siprus untuk Indonesia Nicos Payani dalam kunjungannya ke kantor PBNU, Kamis (19/5).

“Kita siap untuk membantu menjembatani dialog, tetapi yang sifatnya tidak politis, tetapi dialog second track diplomation dan dilog interfaith,” katanya.

Kang Said menjelaskan, Indonesia merupakan negara multi etnik dan multi agama yang semuanya sepakat untuk membentuk sebuah negara yang bisa menaungi semua golongan. Pengalaman Indonesia ini bisa menjadi pelajaran bagi negara lain untuk menjalankan hidup damai dalam sebuah masyarakat yang beragam.

ia mencontohkan, situasi sosial di Indonesia jauh lebih kompleks daripada di jarizah Arab, yang sama-sama satu agama dan sama sebagai orang Arab, tetapi gagal dalam menjalin persatuan.

“Semoga perubahan yang terjadi di Arab sekarang mampu menumbuhkan negara yang demokratis dan berkeadilan, semua rakyatnya dapat merasa nikmat dari berkah alam yang diberikan,” terangnya.

Nicos Payani menegaskan, konflik yang terjadi di negaranya murni konflik etnis, tidak ada persoalan agama didalamnya.

Keberadaan orang Turki di Siprus sudah berlangsung lama ketika pulau itu dikuasai oleh kerajaan Turki Ottonom. Pada perang dunia I, pulau itu sepenuhnya dikuasai oleh Inggris. Tahun 1960 Siprus dimerdekakan oleh Inggris dengan pembagian peran di birokrasi antara orang Yunani dan Turki. Sesuai komposisi etnis yang ada.
Kemenag Buka Pendaftaran Beasiswa S2 Kader Pesantren

Kemenag Buka Pendaftaran Beasiswa S2 Kader Pesantren

Kementerian Agama (Kemenag) RI melalui Dirjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren kembali membuka pendaftaran program beasiswa Pascasarjana (S2) untuk para kader pesantren. Program ini bertajuk “Beasiswa S2 Kader Ulama”. Pada 2011 ini program dikonsentrasikan pada kajian Aqidah Filsafat.

Calon peserta harus mendapatkan rekomendasi dari salah satu pondok pesantren serta hafal al-Qur’an minimal 3 juz. Para peserta beasiswa yang lolos seleksi akan memperoleh biaya pendidikan penuh hingga lulus S2 ditambah biaya hidup selama proses pendidikan berlangsung.

Program ini akan dilaksanakan di Kampus yang menyelenggarakan Ma'had Aly. Namun lokasi pastinya sampai saat ini belum dipastikan.

Berikut persyaratan yang diajukan Dirjen Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag:

Persayaratan Akademik
1. Pendidikan minimal S-1 Keagamaan
2. Mampu berbahasa Arab (baca kitab kuning) dan memahami teks-teks keagamaan berbahasa Arab dengan baik.
3. Diutamakan mampu berbahas Inggris
4. Kyai/Nyai/Ustadz/Ustadzah/Santri pondok pesantren dan siap kembali mengabdi ke pesantren;
5. Usia maksimal 35 tahun pada saat pendaftaran;
6. Lulus Seleksi Tes minimal (tulis dan wawancara)
7. Membuat surat pernyataan setelah dinyatakan lulus seleksi
8. Hafal Al-Qur'an 3 juz.

Persyaratan Administratif
1. Mengisi Formulir pendaftaran (bisa diakses melalui website di www.kemenag.go.id atau www.ditpdpontren.com);
2. Salinan Ijazah S-1 dan transkrip nilai yang telah dilegalisir (rangkap 2)
3. Proposal Tesis tentang kajian pemikiran kalam/teologi dan keislaman;
4. Pas Foto ukuran 3 x 4 sebanyak 4 lembar;
5. Surat rekomendasi dari Pondok Pesantren (tempat mengabdi);
6. Surat izin belajar dari atasan langsung (bagi yang sudah bekerja);

Waktu Pendaftaran:
Sekolah Filsafat Gus Dur Diresmikan

Sekolah Filsafat Gus Dur Diresmikan

Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akhirnya diabadikan menjadi nama Sekolah Tinggi Filsafat Gus Dur. Sekolah Tinggi ini diresmikan di Jakarta, pada Jumat (20/5), bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional.

"Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Sekolah Tinggi Filsafat Gus Dur diresmikan dan diharapkan bangsa ini membangun paradigma filsafat dan kebudayaan untuk meluruskan kembali roadmap, rencana besar kehidupan berbangsa, seperti yang dicita-citakan pendiri Republik ini”, ujar Edward Soerjadjaya dalam sambutannya sebagai salah satu penggagas berdirinya sekolah tinggi dengan nama resmi Gus Dur School of Philosophy ini.

Sebenarnya Edward, telah melakukan pemikiran mendalam,bagaimana menyatakan rasa syukur dan terimakasih kepada bangsa ini? “Saya melihat bangsa ini adalah, bangsa yang ramah, santun dan religius. Bangsa ini juga dikaruniai keragaman budaya yang kaya. Akan tetapi, sejak reformasi bergolak, saya merasakan kegundahan dalam hati,... ternyata... bangsa ini bukan bangsa yang ramah, santun dan religious,” keluh Edward.

Terlebih melihat banyaknya kejadian akhir-akhir ini baik di bidang bisnis, hukum maupun politik, yang sepertinya,... bangsa ini telah hilang kesadaran dan tradisi berpikir mendalam, berjangka panjang, arif bahkan cenderung mengabaikan kepentingan generasi yang akan datang.

Ketika, berdiskusi dengan Prof Mubarok, Edward mengakui ternyata beliaupun mengalami kegalauan yang sama dengan saya. Kegalauan melihat kondisi bangsa yang sepertinya semakin jauh dari apa yang dicita-citakan para pendiri republik ini.

Singkat kata, setelah berdiskusi dan melalui berbagai pemikiran katanya, maka Mubarok, Arief Mudatsir, M Cholid, dan dia sendiri sepakat mendirikan sebuah lembaga yang akan berfungsi sebagai 'Virus'. Ya Virus...virus yang akan menyebarluaskan paradigma filsafat dan budaya ke-Indonesiaan.

Untuk itu gagasan ini dinamai dengan nama GusDur. Tentu bukan saja suatu kebetulan pemilihan nama Gus Dur ini. Saya mengenalnya secara pribadi jauh sebelum dirinya menjadi Presiden Indonesia. Persahabatan kami melahirkan diskusi-diskusi yang tajam, perdebatan-perdebatan atau terkadang lelucon-lelucon yang agak konyol.

Tetapi bukan itu yang menjadi alasan mengapa kita angkat nama GusDur sebagai nama sekolah filsafat ini. Melainkan.. karena Gus Dur adalah Icon. Icon bangsa dengan ciri khas kearifan lokal, kedalaman pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan modern. “Dari situlah saya menganggap GusDur merupakan milik bangsa dan patut kita tempatkan ditempat yang baik sebagai nama sekolah Filsafat,” tutur Edward.

Yang pasti Edward menyadari, tentulah gagasan memperbaiki bangsa tidak bisa hanya dilakukan sendirian. Untuk itulah bertepatan dengan hari Kebangkitan Bangsa 20 Mei 2011,.... dan acara peluncuran gagasan sekolah filsafat GusDur ini, kita mengundang bapak ibu untuk memberikan saran, masukan dan bahkan kritik demi kemajuan bangsa yang kita cintai ini.

Akhir kata, Edward brerterimakasih kepada tim pendukung, Bapak Syonanto, dia adalah praktisi keuangan yang kini aktif menjadi pendidik yang juga mantan rektor Presiden University, yang nantinya akan menjabarkan pemikiran menjadi materi keilmuan filsafat. Juga kepada Bung Harlan Sumarsono, Direktur Eksekutif Institut Paradigma Indonesia atas sumbang sarannya, Christina Aryani selaku Sekretaris Eksekutif Sekolah Filsafat Gus Dur, Bung Diyen, Bung Fadhiel, Bung Tri Soekarno Agung serta seluruh pihak yang tanpa pamrih bekerja keras mewujudkan gagasan ini.
Pesantren Nahdlotul Fata Demak, Pembebas dari Kawasan Wingit

Pesantren Nahdlotul Fata Demak, Pembebas dari Kawasan Wingit

Kadilangu, NU Online
Orang yang pernah berziarah ke makan Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak pasti tak menyangka jika kawasan sekitar makam bukankah kampung santri. Baru banyak orang orang santri setelah adanya sebuah pondok pesantren didirikan KH Muhsin Saerozi pada 1994.

Berpuluh-puluh tahun Kadilangu justru terkenal sebagai kawasan wingit. Banyak hantu maupun jin yang mengganggu. Banyak cerita angker dialami orang selama itu. Termasuk oleh orang yang berniat dakwah agama.

Putra KH Muhsin Saerozi, Gus Luqman Hakim menurutkan, dia banyak mendapat cerita dari orang-orang Kadilangu, banyak orang yang berniat mengembangkan Islam di daerah tersebut tak bertahan lama.

Menurut cerita para tetua, setiap kali ada orang berniat mendirikan madrasah atau membuat jamaah pengajian, ada saja gangguan yang tak kasat mata. Penggagasnya tak kuat mendapat gangguan sehingga keluar dari Kadilangu.

Walhasil, syiar Islam kurang semarak di situ. Ditambah kondisi kemiskinan yang mendera, masyarakat Kadilangu jadi jauh dari bimbingan ulama. Praktis warisan dakwah Sunan Kalijaga kurang terasa dalam waktu sekian lama.

“Memang agak aneh dulu. Di dekat makam wali malah kurang bersuasana santri. Tak ada pondok pesantren atau madrasah,” turur Gus Luqman.

Sebenarnya tak kurang-kurang yang mencoba menetralisir keangkeran itu. Silih berganti orang bertirakat untuk mengusir aroma wingit di Kadilangu. Namun gagal satu per satu.

Hingga akhirnya, salah satu putra asli Kadilangu yang mondok di Ponpes Darussalam Blokagung Banyuwangi diperintah gurunya, KH Mukhtar Syafa’at untuk mengabdikan ilmu di kampung halamannya. Dialah KH Muhsin Saerozi yang kala itu masih muda usia.

Masih dalam bimbingan gurunya, Muhsin muda mengadakan pengajian kecil-kecilan di rumah-rumah warga. Itu dimulai pada 1975. Sambil mengajar ngaji, dia berjualan gerabah dan baju rombeng.
Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu Gratiskan Biaya Pendidikan SMP

Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu Gratiskan Biaya Pendidikan SMP

Indramayu, NU Online
Di tengah semakin tingginya biaya pendidikan, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu Jawa Barat menggagas sekolah gratis. Lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum Ma’arif NU ini membebaskan biaya pendidikan 100 persen untuk tingkat sekolah menengah pertama atau SMP.

Menurut Ketua SMP Islam Asy-Syafi’iyyah Chotibul Umam, dengan menyediakan sekolah gratis ini, pihaknya ingin membantu masyarakat dalam mengakses pendidikan. Langkah ini ditempuh untuk menjaga eksistensi dan kontinuitas penyelenggaraan pendidikan di tengah masyarakat.

“Di tengah-tengah biaya pendidikan kian melejit dan mencekik masyarakat, jangan sampai ada masyarakat putus sekolah. Namun meskipun gratis 100 % biaya pendidikan, sekolah kami tetap mengedepankan kualitas lembaga dan prestasi para siswa,” katanya kepada NU Online di ruang kerjanya, Rabu (18/5).
Aliran Kebatinan Bisa Merongrong Aqidah

Aliran Kebatinan Bisa Merongrong Aqidah

Jember, NU Online
Aliran kebatinan adalah salah satu ancaman serius bagi kemurnian aqidah Islam. Ia dapat merongrong kehidupan umat Islam, terutama yang dasar agamanya rapuh. Jika tidak diantisipasi sedemikian rupa, aliran kebatinan akan terus mengalir, mencari mangsa hingga banyak umat Islam yang jadi korban.

“Kita harus berjuang untuk itu. Biasanya aliran kebatinan itu disokong dana yang kuat, sehingga gampang mempengaruhi orang,” ungkap Rais Syuriyah PCNU Jember KH Muhyiddin Abdusshomad saat memberikan sambutan dalam acara launching buku “Bahaya Aliran Kebatinan” di gedung Baladika NU di Antirogo-Jember, Sabtu (14/5).

Menurut penulis beberapa buku Aswaja itu, aliran kebatinan sama bahanya dengan aliran-aliran Islam yang muncul secara terang-terangan seperti wahabi. Bahaya terhadap ajaran ahlussunnah wal jama’ah.

Dikatakannya, di Jember ada dua pesantren yang mengajarkan faham wahabi, dengan nama yang cukup menipu sehingga harus dihindari. Demikian pula, banyak buku yang terbit membela dan menyebarkan ajaran wahabi.

“Kalau anda mencari buku tentang pembelaan Aswaja di toko-toko buku ternama, hampir pasti tidak ada. Kalau tentang syi’ah, wahabi dan sejenisnya, banyak. Ini bukti bahwa mereka rapi dan kuat secara finansial,” urainya.
Sketsa Wajah Gus Dur Laku 20 Juta

Sketsa Wajah Gus Dur Laku 20 Juta

Surabaya, NU Online
Lukisan sketsa wajah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pasar Seni Lukis Indonesia di Balai Pemuda Surabaya laku seharga seharga Rp 20 juta. Lukisan ini merupakan karya pelukis dari Semarang S. Hartono.

Siapa pembelinya? Ternyata lukisan ini dibeli oleh Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar. Meski secara politik sempat berseteru Gus Dur, Cak Imin--panggilan akrab Muhaimin Iskandar—mengaku tetap mengagumi Gus Dur sebagai tokoh idolanya.

Ia mengaku tertarik dengan lukisan sketsa wajah Gus Dur saat mengunjungi Pasar Seni Lukis Indonesia di Balai Pemuda Surabaya, Ahad (15/5). Namun ia tidak mengatakan akan dipasang dimana lukisan itu.
Pelatihan Ilmu Falak di STAIN Purwokerto

Pelatihan Ilmu Falak di STAIN Purwokerto

Banyumas, NU Online
Pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) soal perubahan derajat arah kiblat di tahun 2010 sempat menjadi topik perbincangat hangat. Sampai ada anggapan dari orang awam, kiblat (ka'bah) berpindah dan sebagainya.

"Arah kiblat itu wajib, bahkan harus dan sangat penting. Soalnya, itu terkait keabsahan ibadah salat kita," kata Kiai Maslahuddin, ahli ilmu falak dari Cilacap, Jawa tengah.


Kiai Maslahahuddin menyampaikan hal itu di sela-sela Pelatihan Menentukan Arah Kiblat, Ahad (15/5), di Purwokerto, Jawa Tengah. Pelatihan yang diikuti 30 peserta itu merupakan kerjasama Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Purwokerto dengan Pusat Pengembangan dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.

"Selama ini, kebanyakan orang mengandalkan arah barat saat membuat tempat ibadah. Padahal, arah barat itu berbeda dengan Kiblat," tambah pria yang menjadi Ketua Lajnah Falakiyah PCNU Cilcap.

Ilmu falak, kata Kiai Maslah mengakui, merupakan perangkat dasar yang digunakan untuk menentukan arah kiblat. "Ilmu falak terhitung rumit dan minim peminat. Karena, ilmu ini merupakan gabungan antara fisika, matematika dan geografi," jelasnya seperti dilaporkan Sa'dun Najah, kontributor NU Online di Banyumas.

"Di Cilacap, saya pernah melatih semua kepala KUA se-kabupaten. Sebenarnya, kalau setiap kecamatan ada ahli falak, tidak ada masjid atau musala yang keliru arah kiblatnya," ujar Kiai Maslah sambil menyebutkan sekitar 70 persen tempat ibadah belum terverifikasi arah kiblatnya di Cilacap.
PBNU: Polisi Tahu Jaringan NII

PBNU: Polisi Tahu Jaringan NII

Malang, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyakini pemerintah dan pihak kepolisian telah mengetahui keberadaan Negara Islam Indonesia (NII) dan jaringan-jaringannya, termasuk beberapa pesantren. Namun mereka mendiamkan saja karena tidak didukung dengan payung hukum yang kuat.

Menurutnya, banyak pihak telah meyakini bahwa polisi sebenarnya telah mengetahui keberadaan beberapa pesantren yang diduga menjadi jaringan organisasi makar NII seperti Pesantren Al Zaytun di Indramayu, beberapa pesantren di Solo, Cirebon, Majalengka, dan Kuningan.

Saat menghadiri haul ke-6 para pendiri Pesantren Roudlotul Muhsinin di Desa Kuwolu, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (14/5), Said Aqil mengusulkan perlunya undang-undang baru pengganti undang-undang subversif yang telah dicabut.

"Setelah undang-undang ini dicabut, maka tindakan-tindakan yang mengarah kepada terorisme atau makar tidak bisa ditindak. Terorisme hanya bisa ditindak kalau sudah kejadian. Jadi pendekatannya murni kriminal. Maka perlu ada undang-undang anti teror yang lebih menggigit," katanya.
NU Tak Tertarik Gerakan NII

NU Tak Tertarik Gerakan NII

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Magelang memastikan di lingkup ormas keagamaannya,  baik pesantren maupun lembaga pendidikan umum dan lembaga agama di daerah, tidak ada yang terlibat, apalagi tertarik pada gerakan NII (Negara Islam Indonesia).

Meski demikian PC NU tetap waspada. Untuk itu, GP Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, MWC NU, LP Ma’arif diperintahkan agar mengadakan pemantauan langsung di lapangan, bekerja sama dengan aparat pemerintah.

"Sehingga kalau menemukan gerakan yang aneh-aneh bisa segera ditangani dengan baik," kata Drs H Asfuri Muhsis MSi, Sekretaris PC Nu Kabupaten Magelang, Senin (2/5).

Kategori

Kategori