KyaiPedia: KH Muhammad Cholil Bangkalan

KyaiPedia: KH Muhammad Cholil Bangkalan

KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrahatau 27 Januari 1820 Masihi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langasung oleh ayah Beliau menginjak dewasa beliau ta’lim diberbagai pondok pesantren. Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiyai Muhammad Khalil belajar kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok-pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan.

Kemudian beliau pindah ke Pondok-pesantren Keboncandi. Selama belajar di pondok-pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kiyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya. Sewaktu menjadi Santri KH Muhammad Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). disamping itu juga beliau juga seorang hafiz al-Quran . Belia mampu membaca alqur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca al-Quran).
Koperasi An Nisa Muslimat NU Bisa Jadi Role Model

Koperasi An Nisa Muslimat NU Bisa Jadi Role Model

Jakarta, NU Online
Program keperasi An Nisa bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM dalam bentuk Smescomart bisa menjadi role model dalam pengembangan ekonomi dilingkungan NU. Bentuk seperti ini jauh lebih mudah dibandingkan mendiriikan rumah sakit.

Pernyataan ini dikemukakan oleh Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indarparawansa ketika memberi sambutan dalam acara Diklat Perkoperasian dan Rapat Anggota Tahunan (RAT) An Nisa di gedung PBNU, Senin (27/6) malam.

Program yang aplikatif seperti ini bisa dijalankan dengan mudah karena tinggal menyediakan tanah dan gedung yang layak untuk minimarket, sementara manajemen dipandu selama lima tahun, sehingga bisa menjadi ruang untuk belajar.
Salafi dan Salafism

Salafi dan Salafism

Oleh H. As'ad Said Ali
Sekjend PBNU

Salafi dan Wahabi



Istilah salafi pada mulanya digunakan oleh beberapa komunitas Sunni. NU menggunakan istilah ini untuk kesetiaan terhadap model ajaran para imam-imam madzab dalam memecahkan problem masa kini. Sejak awal, NU juga telah mengklaim sebagai kelompok ”ahlussunnah wal jamaah”. Istilah yang juga kini digunakan gerakan wahabi/salafi.

Istilah Salafi kemudian digunakan oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridlo tatkala hendak membangun gerakan pembaharuan di Mesir. Di tangan Abduh, istilah Salafi sedikit mengalami pergeseran makna yang dikaitkan dengan semangat pembaharuan dan pemurnian. Di sini salafi dirujukkan pada model pemahaman para penganut Islam paling awal, yaitu Nabi dan Sahabat.
LPBH-NU Jatim Siap Beri Pendampingan Hukum pada Warga NU

LPBH-NU Jatim Siap Beri Pendampingan Hukum pada Warga NU

Surabaya, NU Online
Pimpinan Wilayah Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (PW LPBH NU) Jatim mengadakan rapat kerja dan dialog interaktif dengan pengurus cabang se-Jatim, Ahad (26/6/2011). Acara digelar di gedung PWNU Jatim.

Tema yang diangkat adalah meningkatkan peran LPBH NU Jatim dalam transitional justice. Dialog menghadirkan narasumber Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) RI Achmad Sodiki, perwakilan Bakesbangpol Jatim dan Kakanwil Kemenag Jatim.
LP Ma'arif NU Kendal Adukan Nasib ke PBNU

LP Ma'arif NU Kendal Adukan Nasib ke PBNU

Jakarta, NU Online
rombongan guru madrasah dari Kendal yang tergabung dalam Lembaga Pendidikan Ma'arif Kendal Jawa Tengah, berkunjung ke PBNU. Mereka datang berseragam batik khas Ma'arif NU dengan mengendarai tiga Bus Besar.

Guru-guru Ma'arif ini diterima di aula utama Gedung PBNU, Jl. Kramat Raya 164 Jakarta oleh jajaran Pengurus LP Ma'arif PBNU. Rombongan dari Kendal ini datang untuk mengadukan nasibnya yang kurang diperhatikan oleh pemerintah.
Haul KH Ma'shum Mahfudz Sidorejo Sayung,Demak

Haul KH Ma'shum Mahfudz Sidorejo Sayung,Demak

Demak, NU Online
Ribuan jamaah yang terdiri dari para santri, kiai, tokoh masyarakat dan warga menghadiri peringatan haul Almaghfurlah KH Ma’shum Mahfudh (Mbah Ma’shum), pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang Sidorejo Sayung, Demak, Sabtu (25/6). Para jamaah mengikuti acara dengan khidmat tak terkecuali ketua MUI, Bupati, Ketua DPRD dan Muspida berbaur jadi satu dengan hadirin dalam mengikuti acara tersebut.

Sebelumnya, acara dimulai dengan istighotsah, tahlil dan do’a bersama yang di pimpin para Ulama secara bergiliran. Setelah acara ziarah di makam selesai dilanjutkan dengan ramah tamah antara ulama dan umaro’ di kediaman pengasuh pondok KH Zaenal Arifin Ma’shum di komplek Pondok pesantren Fathul Huda karanggawang Sidorejo Sayung Demak.
Nahdliyin, Ayo Galakkan lagi Ngaji Kitab...

Nahdliyin, Ayo Galakkan lagi Ngaji Kitab...

Jakarta, NU Online
Untuk menangkal gencarnya serangan terhadap amaliyah-amaliyah ibadah warga Nahdliyin, Jajaran Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan kepada seluruh warga Nahdliyin untuk menggalakkan pengajian-pengajian yang menggunakan kitab di Masjid-masjid kampung. Seruan ini dikumandangkan seiring makin maraknya pengajian oral atau pidato saja.

"Anjuran mengaji dengan membuka kitab kuning ini sangat berguna untuk meningkatkan kapsitas intelektual para ulama NU. Hendaknya para ulama NU tidak hanya pandai beretorika di atas panggung, namun juga mumpuni di meja diskusi," tutur Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi di Jakarta, Jum'at (24/6).
Makesta Unggulan PC IPNU-IPPNU Demak

Makesta Unggulan PC IPNU-IPPNU Demak

Demak, NU Online
Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdalatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Demak Punya terobosan baru dalam mengisi liburan siswa siswi dan persiapan perekrutan anggota baru. terobosan yang dimaksud adalah mengadakan Makesta Unggulan pada hari Kamis–Jum'at (23–24/6)bertempat di MA Miftahul Ulum Karangrejo Bonang Demak.

Panitia penyelenggara Muhammad Taufiq mengatakan, tujuan penyelenggaraan pelatihan ini untuk persiapan MOPDIK atau gerbang masuk resmi bagi para anggota baru. Selain itu Makesta unggulan ini juga diorientasikan untuk perekrutan anggota baru.
KyaiPedia: KH Abdullah bin Nuh Cianjur

KyaiPedia: KH Abdullah bin Nuh Cianjur

Al-Ustadz, AI-‘Aalim, AI-Adiib, Azzaahid, AI-Mutawadli’, Al-Haliim, AI-Mujahid fi Sabilillah. KHR. Abdullah bin Nuh dilahirkan di kota Cianjur pada tahun: 1324 H/ 1905 M, putera dari seorang ibu bernama Nyi Rd. H. Aisyah dan dari seorang ayah bernama KHR. Nuh.

NASABNYA


HR. Abdullah putera KHR. Nuh; putera Rd. H. Idris, putera Rd. H. Arifin, putera Rd. H. Sholeh putra, Rd.H. Muhyiddin Natapradja, putra Rd. Aria Wiratanudatar V (Dalem Muhyiddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar IV (Dalem Sabiruddin), putra Rd. Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala), putra Rd. Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala), putra Rd. AnaWiratanudatar I (Dalem Cikundul).

CIANJUR DAN I’ANAH


Cianjur ialah sebuah kota yang sejak dahulu telah terkenal para Ulama dan para pahlawannya, Para Ulama giat menyebarkan ilmunya. Tak kenal lelah dan tanpa mengharapkan upah. Para pahlawannya gigih, berani dalam melaksanakan perjuangan, tanpa pamrih gaji. Kesemuanya hanyalah mengharapkan kendhoan Allah swt dan Rohmat-Nya.
Tujuan NU Tegakkan Syariat Islam, Bukan Islamisasi Negara

Tujuan NU Tegakkan Syariat Islam, Bukan Islamisasi Negara

Jakarta - Nahdlatul Ulama (NU) tetap berkomitmen memperjuangkan syariat Islam dengan mengedepankan perjuangan kultural di masyarakat. Namun, NU tidak bertujuan melakukan Islamisasi negara.

"Sejak awal tujuan perjuangan NU adalah melaksanakan syariat Islam di masyarakat, bukan islamisasi negara," kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqiel Siradj dalam sambutannya di acara Peringatan Harlah ke-85 NU di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (18/6/2011).
Istigotsah Sekolah NU di Mekkah dipimpin Syech Muhammad Ismail

Istigotsah Sekolah NU di Mekkah dipimpin Syech Muhammad Ismail

Sekolah Nahladltul Ulama (NU) di Mekkah yang diberinama Sekolah Indonesia Mekkah pada Jum'at (17/6) malam pukul 19.00 waktu setempat menyelenggarakan acara istighosah antara guru, wali murid, staf dan pengurus yayasan. Acara ini dihadiri sekitar 400 jamaah putra dan putri.

Acara bertempat di Ma'had Riyadul Jannah, Rosefah, Mekkah, Saudi Arabia, yang dimulai dengan pembacaan Surat Yasin, lalu dilanjutkan dengan istighosah yang dipimpin langsung oleh pengasuh Ma'had Dr Syekh Muhammad Isma'il al-Zain.
KyaiPedia: KH Abdul Muhaimin Kotagede

KyaiPedia: KH Abdul Muhaimin Kotagede

Lewat berbagai kegiatan kemanusiaan yang digelutinya, KH Abdul Muhaimin memiliki misi lebih luas. Dia berupaya merajut kedamaian lintas agama dalam bingkai kebinekaan bangsa.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat di Kotagede, Yogyakarta, itu berusaha mewujudkan misinya dengan beragam cara. Pada masa tanggap darurat erupsi Gunung Merapi, November 2010, KH Abdul Muhaimin (57) mengunjungi 13 gereja di DI Yogyakarta yang menampung pengungsi beragama Islam.
Pelatihan Aswaja PCNU Jember

Pelatihan Aswaja PCNU Jember

Jember, NU Online
Dalam rangka menyongsong Harlah NU, PCNU Jember menggelar pelatihan Aswaja, Ahad (12/6). Pelatihan yang berlangsung di Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Desa Curahkalong, Kec. Bangsalsari, Kabupaten Jember itu, diikuti oleh 150-an peserta. Mereka terdiri dari pengurus MWC dan Fatayat NU.

Menurut Sekretaris Panitia Harlah NU, H Misbahussalam, selain pelatihan Aswaja, NU Jember juga menghimbau agar setiap ranting NU mengibarkan bendera NU di depan kantor atau halaman rumah ketua ranting NU.

“Ini agar peringatan NU meriah, sehingga masyarakat punya kebanggaan terhadap NU,” ujarnya di sela-sela pelatihan.
Orang-orang Yang Didoakan Oleh Para Malaikat

Orang-orang Yang Didoakan Oleh Para Malaikat

Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang mengerjakan amalan dibawah ini. Aamiin.
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”.
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a.)
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’”
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Shahih Muslim no. 469)
Bagaimana M Said Budairy Menjadi NU?

Bagaimana M Said Budairy Menjadi NU?

SATU PAGI di pengujung April 2009. Said Budairy menerima tiga anakmuda di kediamannya, Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Dia mengenakan baju koko tipis putih dan bersarung. Kopiah putih menutupi rambutnya yang menipis dan beruban. Tiga anakmuda ini generasi baru dari apa yang sudah ditapaki Budary lebih dari setengah abad silam. Satu anakmuda itu bernama Caswiyono Rusydie, satunya Fahsin M. Fa’al. Keduanya aktivis Ikatan Pelajar Putra Nahdlatul Ulama. Mereka datang guna mencari riwayat Kiai Tolchah Mansoer, salah seorang pendiri organisasi pelajar itu.

Ruang tamu kecil. Diisi satu set sofa buat lima orang. Warna kain sofa, biru muda, sudah terlihat kusam. Ada sobekan sepanjang jari kelingking di bagian sofa. Rumah Budairy tanpa halaman. Garasi cukup untuk satu mobil.
Apa itu Jamaah Tabligh

Apa itu Jamaah Tabligh

oleh H As'ad Said Ali*

Jamaah Tabligh didirikan oleh syeikh Muhammad Ilyas bin Syeikh Muhammad Ismail, bermazhab Hanafi, Dyupandi, al-Jisyti, Kandahlawi (1303-1364 H). Syeikh Ilyas dilahirkan di Kandahlah sebuah desa di Saharnapur, India. Ilyas sebelumnya seorang pimpinan militer Pakistan yang belajar ilmu agama, menuntut ilmu di desanya, kemudian pindah ke Delhi sampai berhasil menyelesaikan pelajarannya di sekolah Dioband, kemudian diterima di Jam’iyah Islamiyah fakultas syari’ah selesai tahun 1398 H. Sekolah Dioband ini merupakan sekolah terbesar untuk pengikut Imam Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283H/1867M.

Di Indonesia, hanya membutuhkan waktu dua dekade, Jamaah Tabligh (JT) sudah menggurita. Hampir tidak ada kota di Indonesia yang belum tersentuh oleh model dakwah mereka. Tanda kebesaran dan keluasan pengaruhnya sudah ditunjukkan pada saat mengadakan “pertemuan nasional” di Pesantren Al-Fatah Desa Temboro, Magetan, Jawa Timur pada tahun 2004. Kenyataan ini sungguh di luar dugaan untuk sebuah organisasi yang relatif baru dan tidak mempunyai akar di Indonesia.
Ziarah Kubur

Ziarah Kubur

Kita telah diperintah untuk ziarah kubur, Rasulallah s.a.w. dan para sahabat juga menjalankan ziarah kubur. Jadi tidak ada dasar sama sekali untuk melarang ziarah kubur, karena kita semua tahu bahwa Rasulallah pernah ziarah ke makam Baqi’ dan mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada para ahli kubur di makam Baqi’ tersebut.
Dalil-dalil tentang ziarah kubur
قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ : نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ اْلقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا
Artinya : Rasulallah s.a.w bersabda: Dahulu aku telah melarang kalian berziarah ke kubur. Namun sekarang, berziarahlah kalian ke sana. (H.R. Muslim)
Bung Karno, Nasionalisme Islam dan Negara Pancasila

Bung Karno, Nasionalisme Islam dan Negara Pancasila

Oleh: Imam S Arizal

Siapa yang tak kenal Bung Karno? Sederet predikat telah melakat kepadanya. Bapak founding father bangsa Indonesia, Presiden RI, Arsitek, Ideolog, Intelektual, Politisi, Proklamator, Negarawan, Penyambung Lidah Rakyat, Abangan bahkan Komunis adalah sebagian kecil dari predikat yang diberikan kepadanya. Bung Karno adalah pribadi yang kompleks yang sulit dicari kembarannya di era sekarang.

Ia lahir dengan nama Koesno Sosrodihardjo pada tanggal 6 Juni 1901 dari keluarga Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, keluarga menengah kebawah asal Blitar, Jawa Timur. Karena sering sakit, ayahnya memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Sukarno. Konon, nama tersebut diambil dari nama seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna. Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".

Waktu itu barangkali belum ada yang menduga bahwa bocah mungil yang sakit-sakitan itu akan menjadi manusia “terhebat” dalam sejarah bangsa Indonesia. Sesuai namanya, Bung Karno benar-benar menjadi seorang panglima yang mampu menyatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari dari aneka ragam suku, budaya, dan agama. Satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa menjadi ruh dari setiap perjuangannya. Spirit nasionalisme tumbuh subur dalam jiwa Bung Karno muda.
Cak Nun: Indonesia Belum Jadi

Cak Nun: Indonesia Belum Jadi

Semarang, NU Online
Lir-ilir lir-ilir/ tandure wong sumilir/ tak ijo royo-royo/ tak sengguh temanten anyar/ cah angon cah angon/ penekna blimbing kuwi/ lunyu-lunyu penekna/ kanggo mbasuh dodotira/ dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir/ dondomana jlumatana/ kanggo seba mengko sore/ mumpung padhang rembulane/ mumpung jembar kalangane/ ya suraka surak hore.

Tembang gubahan Sunan Ampel berisi pengenalan agama Islam itu dibawakan secara kolaboratif nan apik oleh grup musik Kyai Kanjeng dan Laskar Shalawat mahasiswa Unnes, di halaman rektorat Unnes belum lama ini. (Selasa, 7/6).
Gus Dur, Wali Kutub dan Pusat Semedi Kaum Abangan

Gus Dur, Wali Kutub dan Pusat Semedi Kaum Abangan

Jakarta, NU Online
Sastro al Ngatawi, mantan asisten pribadi Gus Dur memiliki banyak pengalaman dalam persentuhannya dengan Gus Dur. Banyak pengalamannya yang luar biasa dan memiliki makna spiritual yang mendalam.

Suatu ketika, ia diajak oleh Gus Dur untuk melakukan ziarah ke makam Eyang Gusti Aji di kaki gunung Lawu. Makam tokoh ini dikenal sebagai tempat untuk bersemedi kelompok abangan. Hampir semua tokoh abangan ziarahnya ke tempat ini.

Jam dua malam, mereka mulai naik menuju ke pemakaman.
LKKNU Bogor adakan Workshop Tehnisi Komputer bagi Santri

LKKNU Bogor adakan Workshop Tehnisi Komputer bagi Santri

Bogor, NU Online
Kebutuhan akan penguasaan Tehnologi dan Informasi (TI) saat ini dirasa sangat perlu oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Bogor, terutama dikalangan para santri yang selama dianggap hanya bergelut dengan kitab kuning. Mereka sudah saatnya mengenal dan menguasai teknologi Informasi secara tepat dan cepat.

Untuk pengenalan teknologi informasi, Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU) kabupaten Bogor menggelar workshop teknisi komputer bagi para santri. Acara ini berlangsung selama 4 hari dan dilaksanakan di Lembaga Bina Santri Mandiri di Kemang – Bogor pada tanggal 26-30 Mei 2011.

“Acara ini merupakan Pelatihan Level 1, Gelombang ke 1. Pelatihan serupa yaitu gelombang 2 dan gelombang 3 akan di wilayah Bogor Timur dan Bogor Selatan pada bulan Juli mendatang,” kata Akhsan Ustadhi, ketua panitia dan juga sekretaris PCNU Kab. Bogor.

“Pada Level 2 nanti peserta akan diajarkan desain grafis dan web desain, sedangkan pada level 3 akan diajarkan tehnik-tehnik hacking dan IT forensik,“ imbuhnya.

Sementara itu Sekretaris LKKNU, Budi Badarutaman, saat ditemui NU Online mengatakan “Acara ini diikuti oleh 57 pesantren di wilayah Bogor dengan jumlah total peserta 78 orang. Menariknya acara ini pada malam harinya peserta dikenalkan dan dimantapkan tentang ke-Aswaja-an dan motivasi sukses yang disampaikan oleh beberapa pengusaha sukses di Kabupaten Bogor.

Pada Malam pertama, ke-Aswaja-an disampaikan oleh KH Mujib Qolyubi , wakil Katib PBNU. Dalam tausiyahnya Kiai Mujib menyampaikan pentingnya doktrin Aswaja dalam membendung radikalisme dan disintegrasi bangsa, “Pancasila harga mati,“ katanya.

Pada hari ke-2, giliran KH Artani Hasbi, rais syuriyah PBNU menyampaikan pentingnya mempertahankan dan memelihara tradisi-tradisi NU, seperti barzanji, manaqib dan hafalan asma’ul husna.

Acara workshop ini terselenggara atas kerjasama LKKNU Kab.Bogor dengan Puskom Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung dan STAINU Kemang Bogor. ”Baru kali ini Puskom Bandung mengadakan kerjasama resmi secara institusi dengan NU dan PCNU Kabupaten Bogor adalah yang pertama, sebelumnya hanya dengan yayasan dan pesantren yang dikelola oleh orang-orang NU,” kata Ir Soecipto, kepala Puskom Bandung.
KyaiPedia: KH Muhammad Yusuf Hasyim Tebu Ireng

KyaiPedia: KH Muhammad Yusuf Hasyim Tebu Ireng

KH. Muhammad Yusuf Hasyim atau biasa dipanggil Pak Ud, tergolong pengasuh terlama di Tebuireng setelah Kiai Hasyim Asy’ari. Pak Ud mengasuh Tebuireng selama 41 tahun (1965-2006), sementara Kiai Hasyim mengasuh Tebuireng selama 48 tahun (1899-1947). Selain itu, Pak Ud juga tergolong pengasuh Tebuireng yang berumur panjang bila dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Kiai Wahid Hasyim wafat di usia 39 tahun, KH. Abdul Kholik wafat dalam usia 48 tahun, dan KH. Abdul Karim Hasyim wafat pada usia 54 tahun. Sementara Pak Ud wafat pada usia 77.

Pak Ud menjadi pengasuh Tebuireng menggantikan kakaknya, Kiai Kholik Hasyim, yang meninggal dunia tiga bulan sebelum meletusnya peristiwa G302/PKI. Selama memimpin Tebuireng, Pak Ud selalu memperjuangkan kemandirian pesantren dan mengupayakan pendidikan murah bagi semua kalangan.

Kelahiran dan Masa Kecil
Pak Ud lahir pada 3 Agustus 1929, di tengah suasana santri yang tengah khusyuk melantunkan ayat-ayat suci al-Quran dan lengkingan suara azan yang memenuhi angkasa Tebuireng. Dia adalah anak terakhir (bungsu) dari tujuh bersaudara (selain empat saudaranya yang meninggal di waktu kecil).

Masa kecilnya dihabiskan di Tebuireng. Dia belajar membaca al-Quran langsung dari ayahandanya. Ketika melakukan perjalanan, Kiai Hasyim sering meminta Muhammad Yusuf kecil untuk mengulangi hapalan ayat-ayat Al-Quran, baik saat naik mobil, kereta api, atau naik delman (dokar).

Sejak berumur 12 tahun, dia mondok di Pesantren Al-Quran Sedayu Lawas, Gresik, yang dipimpin oleh Kiai Munawar. Kemudian pindah ke pesantren Krapyak, Jogjakarta, di bawah asuhan Kiai Ali Ma’sum. Setelah dari Krapyak, Pak Ud sempat menimba ilmu di pondok modern Gontor, Ponorogo.

Meskipun tidak sempat mengenyam pendidikan formal, tapi Pak Ud rajin membaca dan banyak bergaul dengan kalangan terpelajar. Hal itu diimbangi dengan ketajaman intuisi dan keluwesan bergaul. Ini sangat mendukung ketika Pak Ud harus terjun sebagai politisi Nasional di kemudian hari.

Pejuang Bangsa
Secara ideologis, sejak dulu umat Islam di Indonesia sangat anti Barat, sehingga dimanfaatkan oleh pemerintah Jepang untuk melawan Sekutu. Awalnya pemerintah Jepang mengizinkan pendirian Kantor Urusan Agama (KUA) untuk menangani urusan pernikahan, talak, rujuk, dan ibadah haji, dengan tujuan untuk mengambil hati umat Islam. Selain itu, penjajah Jepang juga menyetujui berdirinya Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) bulan Oktober 1943. Dan ketika ancaman Sekutu kian meningkat, Jepang menyetujui usulan para tokoh Islam untuk membentuk Laskar Hizbullah bulan Desember 1944. Setahun sebelumnya, tebentuk pula PETA (Pembela Tanah Air).

Sebagai tokoh Islam yang sangat berpengaruh, Kiai Hasyim Asy’ari mendukung penuh berdirinya PETA dan Hizbullah, bahkan merestui dua orang puteranya bergabung di dalamnya. Abdul Kholik Hasyim bergabung ke PETA dan ikut latihan menjadi daidanco (Komandan Batalyon), sedangkan Pak Ud yang saat itu masih berumur 16 tahun, masuk Hizbullah sekitar awal tahun 1945.

Setelah Amerika Serikat menjatuhkan Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki (tanggal 14 dan 15 Agustus 1945), lalu disusul dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, di berbagai wilayah banyak organisasi-organisasi massa yang membentuk laskar-laskar bersenjata. Salah satunya adalah Laskar Hizbullah. Yang menggunakan nama Laskar Hizbullah cukup banyak. Masyumi, yang saat itu merupakan salah satu partai besar, mempunyai laskar yang juga bernama Hizbullah.
Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari juga membentuk Laskar Hizbullah, yang kemudian dikenal sebagai Laskar Hizbullah Cibarusa, karena perkembangannya berada di wilayah Cibarusa, Cimahi, Jawa Barat.

Sementara Pak Ud, walaupun dalam usia yang masih sangat muda, bergabung dengan Laskar Hizbullah Jombang. Ketika resolusi jihad lahir, disusul dengan meletusnya Peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya, Pak Ud terpilih menjadi komandan Kompi Laskar Hizbullah Jombang.

Setelah berhasil menaklukkan kota Surabaya, pasukan Belanda bergerak ke arah Jombang dan berhasil memporak-porandakan kota santri itu. Pasukan yang dipimpin Kolonel Van Der Plass tersebut lalu bergerak ke arah selatan menuju Tebuireng. Pesantren Tebuireng yang saat itu dipimpin Kiai Wahid Hasyim, dituding sebagai tempat persembunyian Tentara Republik sehingga diserang sampai luluh lantak.

Pasukan Van Der Plass lalu bergerak ke selatan untuk mengejar pasukan Republik pimpinan Pak Ud. Dalam kontak senjata di Desa Laban, selatan Tebuireng, Pak Ud tertembak di bagian dada sebelah kiri. Namun peluru hanya merobek baju uniform kebanggaannya, tidak sampai menembus dada. Pak Ud sempat pingsan selama beberapa jam akibat tembakan tersebut.
Pak Ud kemudian diamankan di rumah Maksum, teman dekatnya. Rumah Maksum memang digunakan sebagai tempat menyembunyikan mortir, bedil, mesiu, dan tentara yang sedang dicari-cari Belanda. Setelah 3 hari bersembunyi, Pak Ud meninggalkan tempat persembunyiannya bersama beberapa warga desa. Dari Desa Laban mereka melewati hutan jati ke desa Sugihwaras, Wonosalam, Gumeng, sampai ke kawasan Tretes di Malang. Jarak itu ditempuh selama berminggu-minggu dengan berjalan kaki.

Berkeluarga
Setelah lama bergerilya, Pak Ud dan pasukannya turun gunung dan memilih desa Pojok, tepatnya di rumah Kiai Abdul Karim, sebagai markas tentara. Markas dengan komandan Kapten Hambali ini, dalam perkembangannya, semakin ramai dikunjungi anggota pasukan maupun rakyat yang simpati pada perjuangannya.
Di markas ini pula semangat perjuangan Pak Ud makin terpompa, terutama ketika mendapat kunjungan seorang gadis Madiun, yang ketika itu datang menjenguk kakaknya, Kapten Hambali, yang sedang sakit. Gadis cantik itu bernama Siti Bariyah. Awalnya pemuda Yusuf Hasyim menganggap pertemuan dengan adik komandannya ini biasa saja. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, hatinya kemudian terusik.
Pada kesempatan berikutnya, Pak Ud mendapat kesempatan mengunjungi rumah Siti Bariyah di Madiun. Jabatannya sebagai Komandan di Kompi Hambali, membuatnya cepat akrab dengan keluarga Siti Bariyah. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Lalu pada tanggal 24 November 1951, pernikahan keduanya diresmikan tanpa kehadiran mempelai wanita, karena Siti Bariyah masih harus meneruskan sekolahnya di Solo.

Pemberontakan PKI
Ketika Perdana Menteri Moh Hatta melakukan rasionalisasi dan strukturisasi TNI, Pak Ud masuk dalam dinas TNI dan mendapat pangkat Letnan Satu di bawah pimpinan Letkol Munasir. Menurut satu sumber, Letkol Munasir adalah teman dekat Kiai Wahid Hasyim.
Dalam peristiwa Madiun 1948, Pak Ud menjadi salah satu komandan tempur yang berada di garis depan. Pak Ud bersama pasukannya berhasil menyelamatkan beberapa tokoh penting yang diculik PKI, seperti Kapten Hambali, KH. Ahmad Sahal, dan KH. Imam Zarkasyi, pengasuh Pondok Modern Gontor Ponorogo. Saat itu Pak Ud terjun bersama kakaknya, Kiai Kholik Hasyim.
Tujuh tahun berikutnya, yaitu tahun 1955, PKI kembali melakukan pemberontakan melalui peristiwa G30S dengan dibunuhnya beberapa Jenderal TNI. Di tengah peristiwa G30S/PKI, Pak Ud dan keluarga sudah pindah ke Jakarta, tinggal di kawasan Tebet. Pak Ud, oleh orang-orang PKI di Jakarta, juga dijadikan target pencarian, namun tidak berhasil ditangkap karena saat itu berada di Tebuireng.

Karier Politik
Mundur dari aktivitas sebagai tentara, dengan pangkat terakhir Letnan Satu, Pak Ud memulai kariernya di kancah politik praktis. Perjalanan karier sebagai politikus dimulai ketika Pak Ud menjadi wakil Sekretaris Jenderal di Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).
Antara tahun 1963-1964, Pak Ud dihadapkan dengan kenyataan banyaknya aksi sepihak berupa perebutan tanah rakyat (land reform) yang dilakukan anggota PKI. Menghadapi aksi ini, NU membentuk Barisan Serba Guna (Banser) tahun 1964. Banser diharapkan mampu mengimbangi aksi sepihak PKI. Pak Ud didapuk menjadi komandan.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1967, Pak Ud mengawali karier politik dengan menjadi wakil rakyat ketika ada refreshing (penyegaran) keanggotaan DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong). Kebijakan merombak keanggotaan DPRGR ini menyusul terbitnya instruksi Jenderal Soeharto, yang mengaku mengemban Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) untuk membersihkan parlemen dari anggota yang berasal dari PKI dan simpatisan Orde Lama.
Memasuki gerbang DPR, Pak Ud segera terlibat dalam berbagai proses politik yang sangat dinamis di hari-hari menjelang berakhirnya kekuasaan Orde Lama. Karier di DPR terus bertahan hingga tahun 1980-an.
Menjelang pemilu 1982, hubungan antara NU dengan PPP pimpinan Naro putus, sehingga Pak Ud pun tergusur dari DPR. Namun Pak Ud tidak begitu saja meninggalkan gelanggang politik. Sebagai salah seorang ketua PBNU, beliau turut berperan ketika NU memutuskan serangkaian kebijakan bersejarah tahun 1984, seperti kembalinya khittah NU 1926 dan penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal.
Di masa reformasi, dimana banyak bermunculan partai-partai politik, Pak Ud ikut meramaikannya dengan membentuk Partai Kebangkitan Umat. Lalu menjelang akhir hayatnya, Pak Ud dipercaya sebagai anggota Majelis Pertimbangan Partai PPP.

Mengasuh Tebuireng
Tiga bulan sebelum peristiwa G30S/PKI tahun 1965, pengasuh Tebuireng (saat itu) KH. Abdul Kholik Hasyim, meninggal dunia. Kepergian Kiai Kholik mengharuskan Pak Ud untuk meneruskan perjuangan sang kakak di Tebuireng. Saat memegang tonggak kepemimpinan Tebuireng, Pak Ud masih menjabat sebagai anggota DPR RI Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP).
Dalam masa kepemimpinan Pak Ud, Pesantren Tebuireng mengalami beberapa kemajuan. Dalam segi kuantitas, di Madrasah Aliyah yang pada awalnya memiliki siswa 150-an orang, pada tahun 1990 jumlah siswanya mencapai 600-700-an orang.
Pada tanggal 22 Juni 1967, didirikan Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY). Rektor pertama dijabat oleh K.H. Muhammad Ilyas. Sayangnya, sejak akhir dekade 1980-an, UNHASY terpisah dari naungan Yayasan Hasyim Asy’ari Tebuireng dan dirubah namanya menjadi Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (IKAHA).
Pada tahun 1971, didirikan pula Madrasatul Hufadz (sekarang Madrasatul Qur’an/MQ) yang khusus membina santri yang berminat menghafal Al-Qur’an. Lalu pada tahun 1972, dibentuk Madrasah Persiapan Tsanawiyah, sebagai jawaban atas kebutuhan santri lulusan sekolah dasar dan lanjutan umum, untuk dapat memasuki Madrasah Tsanawiyah Tebuireng yang sarat dengan pelajaran agama.
Pada tahun 1975, didirikan SMP dan SMA Wahid Hasyim. Disamping sebagai lembaga pendidikan umum, di dalamnya juga ditampung siswa laki-laki dan perempuan dalam satu kelas, suatu budaya yang saat itu belum pernah ada di dunia pesantren. Pendirian SMP dan SMA ini mendapat reaksi keras dari sebagian masyarakat. Pada di awal berdirinya, SMA Wahid Hasyim hanya memiliki 66 siswa, namun pada tanun 2000-an telah dipenuhi oleh 1000-an siwa dari berbagai penjuru Tanah Air.
Pada tahun 1989, sebagai antisipasi atas semakin padatnya kegiatan belajar santri, didirikan Koperasi Jasa Boga (Jabo), koperasi yang khusus menangani dan melayani kebutuhan makan santri sehari-hari. Dengan adanya koperasi ini, santri Tebuireng tidak perlu khawatir dengan kebutuhan pokoknya. Santri dapat berkonsentrasi dengan baik pada tugas belajarnya.
Kemudian tahun 2006, beberapa saat setelah pengunduran dirinya dari jabatan pengasuh Pesantren Tebuireng, Pak Ud mendirikan perguruan tinggi Ma’had Aly yang secara intens mendalami ilmu-ilmu keislaman klasik dan kontemporer. Para mahasiswa Ma’had Aly yang setiap angkatannya dibatasi 30 orang, tidak dikenakan biaya kuliah dan disediakan asrama khusus serta sarana belajar yang memadai.
Selama masa kepemimpinannya, Pak Ud dikenal sebagai penggagas pendidikan murah-bermutu. Dalam pandangannya, pendidikan pada jenjang, jenis, dan status apa saja punya potensi terjangkau oleh semua kalangan. Kendala utamanya, menurut Pak Ud, justru terletak pada manajemen pengelolaan yang kurang menekankan skala prioritas.
Dalam hal pengelolaan keuangan, Pak Ud menitik beratkan pada sektor hasil tanah wakaf pesantren. Pak Ud tidak ingin memberatkan beban keuangan kepada santri. Karena itu, sejak tahun 2003, santri hanya dipungut biaya 150an ribu sebulan. Anggaran ini sudah termasuk biaya makan, dana kesehatan, asuransi, biaya gedung, dan perpustakaan. Besaran dana pembayaran santri diklasifikasi sesuai kemampuan finansialnya. Ada yang bayar penuh, bayar dengan keringanan, bahkan ada yang gratis. ”Barang baik tapi mahal, di manapun dapat ditemukan. Tapi barang baik dengan harga murah, ini yang jarang ditemukan,” tegas Pak Ud saat diwawancarai Majalah Sabili.

Mundur dari Kursi Pengasuh Tebuireng
Setelah 41 tahun mengasuh Tebuireng, pada April 2006, Pak Ud mengundurkan diri dari pengasuh Tebuireng dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada keponakannya, Ir. H. Salahudin Wahid. Disamping karena alasan usia (saat itu usia Pak Ud sudah 77 tahun), pengunduran dirinya itu juga untuk menciptakan tradisi suksesi kepemimpinan yang sehat, mulus, dan terarah.
Delapan bulan setelah suksesi kepemimpinan itu, tepatnya pada 30 Desember 2006, Pak Ud terjatuh di kamar rumahnya di Desa Cukir, selatan Tebuireng. Setelah itu beliau mengeluh sakit pinggang. Karena kondisinya semakin memburuk, keesokan harinya beliau dibawa ke RSUD Jombang dan dirawat selama tiga hari. Lalu pada tanggal 2 Januari, Pak Ud dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Setelah dirawat selama 12 hari di sana, pada hari Minggu 14 Januari 2007, Pak Ud dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Inna liLlahi wa Inna ilayhi Raji’un. Jenazah Pak Ud kemudian dibawa ke Tebuireng dan dikebumikan di komplek pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng.
Untuk mengenang jasa-jasa perjuangannya, markas besar Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jakarta, menetapkan Pak Ud sebagai pahlawan Nasional. Penganugerahan itu dilakukan pada pertengahan Maret 2007, diwujudkan dengan pemancangan miniatur bambu runcing dengan bendera kecil merah-putih di ujungnya. Miniatur bambu runcing merupakan simbol bahwa Pak Ud adalah pahlawan nasional yang dimakamkan di luar Taman Makam Pahlawan Nasional. ()

Kategori

Kategori