Tanpa Karakter, Indonesia Tak Akan Maju


Kudus, NU Online
Berbagai persoalan bangsa yang semakin menumpuk menjadi indikasi bahwa karakter bangsa Indonesia semakin pudar. Pasalnya, bangsa yang tidak memiliki karakter akan mudah disetir oleh bangsa lain.

“Jika karakter bangsa masih seperti ini, Indonesia tidak akan maju,” ujar Pengamat Politik Reform Institut, Yudi Latif dalam diskusi Sambung Rasa Kebangsaan bertajuk “Kembali ke Rumah Pancasila (Negara Pancasila)” di Aula Masjid Darul ‘Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK), Selasa (10/04).

Pentingnya karakter bagi kemajuan bangsa dibuktikan oleh Cina, Jepang dan India. Jika Cina dengan konfusiusnya, maka Jepang dan India memperkuat Bushido dan Swadesi untuk mencapai kemajuan.

Membangun bangsa, lanjutnya, dapat dilakukan melalui membangun karakter. Hal itu pula yang dilakukan oleh Soekarno dan beberapa tokoh bangsa di awal kemerdekaan melalui ideologi Pancasila.

“Soekarno misalnya, ia dipersilahkan oleh rektornya untuk menyobek ijazahnya. Sebab, yang menentukan masa depannya bukan ijazah, akan tetapi karakter,” tutur Yudi menggambarkan pentingnya karakter.

Lemahnya karakter bangsa, lanjutnya, merupakan akibat tidak adanya proses penyaringan atas pemikiran atau budaya asing. “Berbeda dengan tokoh terdahulu,” kata mantan Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengkritisi tokoh-tokoh saat ini.

Soekarno, menurut Yudi, juga belajar pada pemikiran yang berkembang di barat, misalnya pemikiran Karl Marx. Akan tetapi, pemikiran tersebut disesuaikan dengan karakter bangsa indonesia sehingga memunculkan ide Marhaenisme.

Tetapi menurut moderator acara Budayawan Zastrow Al-Ngatawi, bukan hanya Soekarno saja melainkan Sunan Kalijaga, Pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari dan Pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan juga menunjukkan karakter bangsa in. Meski penyebar ajaran Islam ini memperkenalkan agama yang dianut di Arab, tetapi karakter bangsa tetap mereka indahkan.

Untuk menjadi bangsa maju, Zastrow menyimpulkan, bangsa Indonesia harus mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila. Karakter dan budaya bangsa penting untuk diperkuat agar tidak mudah dipermainkan oleh bangsa asing.

Ketua Panitia, Hendy Hendro mengungkapkan, acara tersebut merupakan salah satu wujud keprihatinan atas berbagai masalah bangsa. Pasalnya, meski telah lama dilakukan reformasi, kondisi Indonesia tidak kunjung membaik.

Oleh sebab itu, sambung rasa kebangsaan ini digelar untuk menanamkan semangat nasionalisme pada penerus kepemimpinan bangsa. “Biar mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan lebih baik dari pemimpin sekarang,” ujarnya.


EmoticonEmoticon