Indonesia Ngobrol, Ngobrol Indonesia

Post Page Advertisement [Top]

Jakarta, NU Online
Harlah ke-62 Fatayat NU tiba di puncaknya. Seremoni puncak acara harlah digelar pada jam 10.00 pagi, hari ini (27/5), di Gedung SMESCO lt. 3 Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Harlah tahun ini, Fatayat NU mengambil tema ‘Bersama Fatayat NU, Mewujudkan Perempuan Indonesia yang Sehat dan Berkualitas’.

Sebelumnya, Fatayat NU menggelar beberapa kegiatan bakti sosial sebagai rangkaian harlahnya mulai dari 24 April lalu. Dalam 2 bulan belakangan, sekurangnya lima agenda terkait tema harlah sudah terlaksana. Kelimanya adalah Seminar Nasional MDGs, Sunatan Massal, Pengobatan Gratis IVA (pemeriksaan dan pengobatan kanker leher rahim), Pengobatan Gratis Katarak, dan Bedah Rumah.

Sedikitnya 3000 kader Fatayat NU memenuhi ruang pertemuan akbar tersebut. Puncak harlah dihadiri oleh Ketua Umum PP Fatayat NU, Hj. Ida Fauziyah, Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, Menteri Pemberdaan Perempuan, Linda Amalia Sari Gumelar, Menteri Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, Ibu Kepala Negara, Ani Yudhoyono.

Seremoni puncak harlah Fatayat NU, diisi oleh pelantunan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Alquran, shalawat Badar, Mars Fatayat NU. Kemudian, acara dibuka oleh laporan ketua panitia harlah Fatayat NU ke-62, Hj. Anis Santi Faishal. Setelah itu, panitia menyediakan mimbar bagi sejumlah hadirin. Ketua Umum Fatayat NU, Ketua Umum PBNU, Menteri Pemberdayaan perempuan, dan Ibu Kepala Negara memberikan sambutan.

Dalam kesempatan ini, Fatayat NU memberikan anugerah kepada 4 aktivis perempuan yang berdedikasi tinggi di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Sri Mar’atul Qibtiyah, kader Fatayat NU di bidang pendidikan, Zulfiah TH. Mansur, kader Fatayat NU yang menginisiasi rekonsiliasi di kawasan konflik, Lili Pujiati, pejuang buruh migran, dan Mama Aleta Baun, penggerak masyarakat di daerah tertinggal.

Setelah doa, satu grup band dengan khas etnik mementaskan lagu ‘Alhamdulillah’-nya Opick. Lagu ini dibawakan secara menarik dengan memasukkan unsur angklung yang dominan. Karena keunikannya, para hadirin tampak mengabadikan aksi pentas mereka dengan alat komunikasi masing-masing.

Sebelum para kader membubarkan diri untuk makan siang, mereka dihibur oleh tarian dari 3 daerah; tarian daerah DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur. Warna-warni pakaian dan atribut pakaian sejumlah penari, menyegarkan pandangan mata. Lenggak-lenggok tubuh dan gemulai ayunan tangan para penari, menampilkan wajah keindonesiaan yang beragam dan unik.

Seribu lebih kader Fatayat NU yang tidak bisa masuk oleh ketatnya penjagaan Paspampres, tetap mengikuti acara puncak harlah organisasinya dengan khidmat di luar ruangan. Ini menunjukkan loyalitas yang luar biasa sebagai kader militan. Mereka mengikuti acara hingga selesai pada 12.20 siang.

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]