Indonesia Ngobrol, Ngobrol Indonesia

Post Page Advertisement [Top]

Kudus - Pagelaran tabuh terbang yang diselenggarakan Forum Komunikasi Terbang Papat (FKTP) Kabupaten Kudus sukses mencatat rekor Muri. Bukan hanya itu saja, tabuh terbang terlama yang diadakan di Masjid Agung Kudus sejak Ahad (15/7) hingga Rabu, (19/7) itu juga meraih penghargaan dunia berkategori Mahakarya Kebudayaan.

Penghargaan diserahkan Manajer MURI Sri Widayati kepada Bupati Kudus H Musthofa, Ketua FKTP H Kholid Seif dan Direktur Jenang Mubarok Food H Mohammad Hilmi selaku pemrakarsa. Dalam sambutannya, Sri Widayati mengatakan dalam catatan Muri pelaksanaan tabuh terbang terlama ini berlangsung selama 87 jam dengan 131 grup.





“Atas prestasi dan semangat nguri-nguri seni tradisi ini, kami berikan penghargaan sekaligus bukti peraihan penghargaan dunia ber-kategori mahakarya kebudayaan,” ujarnya saat menyerahkan penghargaan bersamaan dengan pelaksanaan kirab prosesi dandangan di alun-alun Kudus, Kamis (19/7).

Sementara ketua FKTP H Kholid Seif merasa bangga atas tercapainya rekor Muri tabuh Terbang Papat terlama. Menurutnya, peraihan rekor Muri ini melebih waktu yang direncanakan 83 jam dengan 130 group ternyata mampu melebihi perhitungannya yakni 87 jam dan 131 group terbang papat.

“Saya terimakasih kepada semua grup terbang yang mendukung kegiatan ini. Sehingga tercatat bukan hanya rekor nasional tapi juga masuk rekor dunia dengan meraih anugerah maha karya kebudayaan,” katanya kepada NU Online usai menerima penghargaan.

Ia menambahkan rekor Muri menjadi titik awal bangkitnya kembali seni tradisi Kudus terutama Terbang Papat.Terbang Papat, katanya, memiliki kekhasan tersendiri dibanding seni-seni yang sejenis seperti hadrah, rebana dan marawis.

“Dari jenis iramanya memiliki nama yang khas, mulai kemplong, lajer, salahan dan telon ditambah jidur. Iramanya sangat rancak dan enak didengar,” tuturnya.

Sebagai ketua dari pegiat seni Terbang Papat se-Kudus, ia memiliki komitmen akan mengembangkan program melestarikan seni tradisi terbang papat ini dengan melalui festival antar group yang ada di Kudus.

“Ke depan FKTP akan membuat panduan untuk latihan menabuh irama terbangnya yang mudah dipahami dan dilakukan generasi muda sekarang. Apalagi dengan dorongan bacaan sholawat sebagai bacaannya, tentu menambah jiwa semangat keikhlasan,” tandas Kholid.

Motivator Terbang Papat Anief Farizi menambahkan kegiatan pencatatan rekor Muri ini sebagai stimulus untuk mengembalikan karakteristik dakwah seni lokal melalui Terbang Papat yakni menebar sholawat menuai syafaat.

“Secara sistemik kita akan melakukan pendekatan kepada pihak-pihak terkait mendorong orang Islam yang memliki hajat untuk mengalunkan musik Terbang Papat. Dengan demikian, masyarakat terutama generasi muda mempunyai kebiasaan atas terbang seni tradisi Terbang Papat,” ungkapnya.

Dalam konteks sejarah, tuturnya, penjajah pada waktu itu melakukan upaya menjajah fisik mental masyarakat melalui budaya melean yang didalamnya terdapat keplean atau domino (judi).

“Dari sini umat Islam menangkalnya dengan tradisi terbangan seraya membaca sholawat sampai tengah malam, secara perlahan keplean terkikis,” katanya sambil menunjukkan kebanggaan atas peraihan penghargaan dari Muri.

Usai meraih penghargaan, terbang papat meramaikan prosesi kirab dandangan yang telah menjadi tradisi masyarakat Kudus dalam menyambut datangnya bulan Suci

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]