HIPSI Teruskan Model Berdakwah dengan Berwirausaha


CIREBON - Cirebon, NU Online
HIPSI atau Himpunan Pengusaha Santri Indonesia, sebuah lembaga yang dibentuk di bawah Rabithah al-Ma'ahid al-Islamiyyah (RMI) atau asosiasi pesantren se-Indonesia, menempuh jalur dakwah lewat jalur wirausaha. Menurut HIPSI, nilai-nilai kejujuran dan kerja keras bisa didakwahkan lewat entrepreneurship.

Demikian disampaikan Mohammad Gozali, Ketua Umum HIPSI, di sela Munas-Konbes NU 2012 di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Senin (17/9) lalu.

“Dakwah selalu diidentikkan dengan penyampaian ajaran Islam lewat kata-kata di forum-forum pengajian atau di tempat-tempat ibadah. Padahal Nabi Muhammad SAW melakukan dakwah lewat berbagai media yang hasilnya juga tak kalah efektif dibandingkan dengan kata-kata, yakni "bilhal" atau perbuatan, khususnya perdagangan,” katanya.

HIPSI menjadi institusi yang bukan menciptakan calon pencari kerja, tapi kader pesantren yang mampu menciptakan peluang pekerjaan dan menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin serta menciptakan pengusaha baru kreatif dan inovatif

HIPSI yang didirikan di Pesantren Al-Yasini Pasuruan ini juga sudah dideklarasikan di sejumlah daerah, seperti Jatim, Jateng, Kalimantan dan Palembang. Sejumlah provinsi lain seperti Jabar berikut DKI menjadi target berikutnya.

Menurut Gozali, seminar dan deklarasi HIPSI sudah dilakukan kepada santri dari ratusan, salah satunya di pesantren Alqurthuby Bondowoso, dikumpulkan 300-an santri yang dididik targetnya agar mereka memiliki jiwa wirausaha. Diharapkan mereka setelah lulus dari pesantren, tidak lagi bingung mencari, melainkan justru bisa membuka lapangan pekerjaan.

HIPSI berdiri awal 2012, tepatnya bulan Februari. Waktu itu sekitar 2008 dirinya dan beberapa teman santri, sudah gandrung berbicara tentang bisnis. Melihat semangat sekelompok anak muda itu, maka RMI mengakomodasinya dalam sebuah lembaga resmi, maka berdirilah HIPSI.

RMI membawahi 23.000 pondok pesantren se-Indonesia, tapi rata-rata, mereka ini lebih fokus ke ilmu agama jarang sekali yang menyentuh ekonomi. Secara legalitasnya HIPSI di bawah RMI atau menginduk ke RMI, organisasi pondok pesantren di bawah NU itu memiliki misi menjadi wadah pengembangan pendidikan wirausaha santri yang mandiri.

Mochammad Ghozali menegaskan, target ke depan HIPSI menjadi organisasi wadah pengkaderan pengusaha dan jejaring ekonomi di kalangan nahdiyyin. Beralamat kantor di Jl Kayun 38-40 Surabaya, sampai saat ini telah memiliki hampir 1000-an santri pengusaha anggota yang tersebar merata di Jawa Timur dan beberapa di daerah lain.

Menurutnya, HIPSI yang berada di bawah RMI sebagai organisasi pondok pesantren di bawah NU itu memiliki misi menjadi wadah pengembangan pendidikan wirausaha santri yang mandiri, Targetnya 1 juta pengusaha santri dalam 10 tahun kedepan.

Misi lainnya adalah menyinergikan kekuatan ekonomi santri di seluruh Indonesia serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Dakwah secara umum sudah banyak dilakukan oleh para tokoh, tapi dakwah lewat perdagangan ini yang masih terbilang jarang disentuh bahkan diabaikan. Padahal Nabi dulu juga berdagang dan itu bagian dari dakwah beliau," kata Gozali.

Sekretaris Pengurus Pusat RMI Miftah Fakih, dihubungi NU Online mengatakan, HIPSI diharapkan menjadi wadah untuk memunculkan sebanyak mungkin pengusaha dari kalangan pesantren.

“RMI sudah berpesan bahwa HIPSI ini anggotanya harus NU atau warga pesantren, lebih khusus lagi harus punya background pesantren atau pernah nyantri di pesantren,” katanya. Sumber: NU Online


EmoticonEmoticon