Kebudayaan Sebagai Jantung Pertahanan Islam


JAKARTA - Keberlangsungan agama Islam tidak bisa dilepaskan dari aspek kebudayaan. Keberhasilan penyebaran Islam di Indonesia berhutang besar pada cara-cara ulama sebagai motor kebudayaan mempertahankan nilai-nilai Islam.

“Kebudayaan yang dilestarikan para ulama ini menjadikan agama Islam terus berdenyut,” kata KH Said Aqil Siroj, Ketum PBNU dalam rapat koordinasi dengan PWNU se-Indonesia, di aula lantai delapan Gedung PBNU, jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Sabtu (13/10) petang.

Model pendidikan para ulama mengabadikan nilai Islam, tambah Kang Said. Lewat tulisan, pengajaran, dan pengamalan, ajaran Islam sanggup bertahan berabad lamanya. Cara semacam ini menempatkan Islam dikonsumsi tanpa terikat waktu dan tempat.

Kang Said tidak mengenyampingkan peran politik dalam perkembangan Islam. Dinasti Bani Umayah, Bani Abbasiyah, Bani Fatimiyah, Buwaih, dan lainnya, juga berperan bagi kemajuan agama Islam. Keberadaan misalnya Baitul Hikmah sebagai lembaga penelitian Islam, tutur Kang Said, juga membuktikan peran politik.

Namun sumbangsih politik bagi perkembangan Islam belum seberapa dibandingkan dengan kekuatan kebudayaan. Dinasti-dinasti Islam, kerajaan asing sekalipun, yang pernah berkuasa di masyarakat Islam, boleh bertumbangan. Tetapi keruntuhan sebuah dinasti tidak menjadi ukuran kemunduran nilai-nilai Islam, imbuh Kang Said.

Kang Said menunjuk Imam Syafi’i dan Imam Bukhari sebagai contoh. Nama dan karya keduanya lebih abadi di benak umat Islam daripada Harun Arrasyid dan al-Makmun. Hal ini membuktikan bahwa para ulama lewat jalur kebudayaan memegang peran yang sangat barmakna.

Bayangkan, kata Kang Said. Tafsir Jalalain hingga kini dibaca oleh jutaan orang. Belum lagi karya-karya lainnya. Karya ulama itu hanya tulisannya yang mati. Semuanya bisa berbunyi dan hidup di tengah masyarakat muslim karena gerakan para ulama dan kaum kiai, tutup Kang Said. Sumber: NU Online


EmoticonEmoticon