Haul Sunan Kalijaga di Gelar Semalam di Kadilangu Demak


DEMAK - Raden Syahid atau Sunan Kalijaga Kadilangu dalam berdakwah tidak menyinggung perasaan umat, tradisinya, adatnya, meskipun banyak yang tidak cocok dengan Islam.

"Kanjeng Sunan Kalijaga dalam berdakwah selalu memperhatikan adat budaya kaum yang dituju. Beliau menyebarkan agama yang berhaluan seperti Aswaja kita ini, sehingga diterima kaumnya."

Demikian disampaikan oleh KH Buchori Masruri saat memberikan mauidloh hasanah dalam acara Haul Kanjeng Sunan Kalijaga ke 427 diserambi Masjid Kanjeng Sunan Kalijaga Ahad (25/11).

Lebih lanjut kiai Buchori megatakan Sunan Kalijaga bersama Wali Songo berdakwah lewat budaya yang ada dipulau Jawa. Dikatakannya, dakwah dengan budaya lebih bisa diterima ketimbang dengan model formal atau layaknya ngaji dan kajian model sekarang atau jaman Nabi.

Kiai Buchori yang juga mantan ketua PWNU Jateng mengutip kalimat yang pernah dikatakan almarhum Gus Dur, "Para wali songo dalam menyebarkan Islam tidak selalu dengan selogan Islam. Namun menurut Gus Dur Sunan Kalijaga itu tidak mengislamkan Jawa tapi menjawakan Islam dengan budaya."

Acara haul Sunan Kalijaga ini terselenggara hasil kerja bareng Yayasan Kanjeng Sunan Kalijaga, Jamiyyah Ahbabul Musthofa, MWC NU Demak, PC GP Ansor, Majlis Mabadi Khoiro Ummah dengan melibatka Pesantren Attaslim kracaan, Pesantren Nurul Hikmah Merbotan, Pesantren Subulussalam, Pesantren BUQ betengan, dan Pesantren Al Ishlah Sempalwadak Demak.

Sebelum pengajian umum, pada pukul tujuh pagi dilaksanakan semaan Al-Qur'an dimakam Sunan Kalijaga. Pada pukul tujuh malam dilanjutkan tahlil Akbar juga dimakam Sunan Kalijaga, lalu Maulidurrasul bersama Habib Ali Zainal Abidin Assegaf. Sumber: NU Online


EmoticonEmoticon