Indonesia Ngobrol, Ngobrol Indonesia

Post Page Advertisement [Top]

TEGAL - Komunitas Facebook IPNU–IPPNU Kecamatan Dukuhwaru menggelar acara nonton Breng film “Resolusi Jihad, Sejarah yang Dibungkam“ di pelataran rumah pengurus NU Desa Slaranglor, Ahad (18/11) malam.

Koordinator kegiatan Sepudin mengatakan sengaja kami melaksankan kegiatan tersebut karena ini ada moment yang sangat penting pada bulan ini yaitu peringtan hari pahlawan. Film Resolusi Jihad besutan tangan Zainul Munasichin itu membuktikan bahwa NU memiliki peranan yang sangat dalam perlawanan Inggris dalam pertempuran 10 November itu. Dengan Resolusi Jihad itulah maka terjadi pertempuran 10 November.

“Ini adalah sebagai bukti sejarah yang harus dipahami semua oleh semua generasi, sehingga sejarah harus juga mencatat bagaimana NU bisa menggerakkan kejuangan mempertahankan bangsa bukan hanya sekedar berpartisipasi tetapi menggerakan elemen kejuangan itu,“ katanya.

Sebelum pemutaran film tersebut Abdul Muiz memberikan pengantar bahwa semangat, etos, dan patriotisme para kiai yang menelurkan Resolusi Jihad sebagai moral perjuangan kaum santri dalam pertempuran melawan sekutu pada 10 November 1945 di Surabaya, adalah bentuk mempertahankan NKRI.

Ia berpendapat perlunya kontekstualisasi Resolusi Jihad setelah 67 tahun ditelurkan. Sebab saat ini Indonesia dihadapkan pada penjajahan model baru. Bukan lagi serangan fisik, tapi dihadapkan pada globalisme, gerakan fundamentalisme yang lebih bahaya.

Untuk itu, kepada segenap anak bangsa untuk mentransformasikan jihad di era globalisasi dengan berjihad membangun negeri, menghadirkan kesejahteraan, menebarkan rasa aman dan kedamaian, serta melanggengkan persatuan dan kesatuan di bumi Nusantara.

Menurutnya, berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dilepaskan dari peran para pejuang muslim, atau lebih tepatnya kaum santri. Berdasarkan laporan pemerintah Belanda sendiri, peristiwa perlawanan sosial politik terhadap penguasa kolonial, dipelopori oleh para kiai sebagai pemuka agama, pemimpin pesantren, para haji, dan guru-guru ngaji.

“Puncak dari perlawanan itu adalah diselenggarakannya Rapat Besar Nahdlatul Ulama yang mencetuskan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945,” kata Muiz

Sebelum kegiatan tersebut terlebih dahulu digelar pawai ta’aruf peringatan tahun baru Islam 1434 Hijriyah, Ratusan peserta mengikutinya, diantaranya dari pesreta didik MI Miftahul Inayah Slaranglor, TK, TPQ Bautus salam dan simpatisan yang lainnya.

Sebelum melepas peserta pawai obor kepala desa Slaranglor mengatakan dalam sambutanya agar senantiasa menjaga ketertiban walaupun susananya senang, tetapi harus tertib dan teratur, karena semua pihak juga membutuhkan jalan yang sama.

“Saya bangga dengan generasi muda yang bisa memberikan arti pada peringatan tahun baru Islam 1434 Hijriyah ini, ini karena ada pihak yang senantiasa mendukungnya dan bekerjasama antara kita semuanya,“ katanya.

Sementara Pembina IPNU-IPPNU Mahrus mengingatkan agar kader-kader IPNU-IPPNU bisa memberikan contoh yang terbaik dalam menjalankan roda organisasi, ini contohnya memberikan semangat dan pemahaman atau mengingatkan kepada masyarakat bahwa bulan Muharram ini adalah tahun baru Islam yang hraus kita peringati, sehingga kesempatan ini dengan model kegiatan semacam ini bisa memberikan arti yang positif.

“Apalah arti kalau generasi tidak memberi arti,“ pesannya singkat. Sumber: NU Online

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]