KH Malik Madany Dorong Muktamar 33 di NTB


JAKARTA - Katib Aam PBNU KH Malik Madany akan mendorong penyelenggaraan muktamar ke-33 NU di NTB dengan alasan untuk pengembangan NU di luar Jawa. NTB juga menawarkan pesantren sebagai lokasi muktamar.

Ia menuturkan, sebelumnya salah satu rais syuriyah PBNU KH Machasin sudah melakukan kunjungan tidak resmi ke pesantren Komarul Huda, Bagu Prinderate Lombok yang diasuh oleh Tuan Guru Turmudi yang diusulkan menjadi lokasi muktamar. Dari hasil kunjungan tersebut, bisa disimpulkan infrastruktur pokok sudah siap, tinggal melengkapi kekurangan dengan fasilitas MCK.

Di kompleks pesantren tersebut telah terdapat perguruan tinggi berupa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang bisa dimanfaatkan untuk menggelar berbagai kegiatan muktamar. 

“Saya kira Lombok-lah yang paling representatif,” tandasnya.

Merujuk pendapatnya mantan rais aam PBNU KH Sahal Mahfudh, yang dimaksud pesantren siap menyelenggarakan muktamar adalah sudah memiliki infrastruktur yang pokok. “Kalau siap dibangunkan aula, itu ngak siap namanya. Kalau NTB sudah siap. Yang perlu ditambah cuma MCK, ini kan masalah kecil.”

“Jadi kalau nanti ada rapat gabungan, maka saya termasuk yang cenderung mendukung apa yang disaksikan langsung oleh Prof Dr Mahasin. Apalagi saya juga mendengar disini kemarin, teman-teman yang dari NTB itu menceritakan bagaimana gubernur NTB Zainul Majdi sangat berharap muktamar NU juga disana,” jelasnya.

Mengenai masalah transportasi, menurutnya tidak masalah karena jaraknya dari bandara baru Internasional Lombok yang baru diresmikan pada 2011 lalu hanya 30 menit.

Transportasi NTB semakin bagus karena menjadi tujuan wisata yang menyaingin Bali. Dari berbagai lokasi di Indonesia bisa langsung ke NTB tanpa perlu transit dulu ke Jakarta.

“Kalau tahun 1936 kita bisa menyelenggarakan muktamar di Banjarmasin, apalagi sekarang. Ngak ada alasan untuk soal transportasi,” jelasnya.

Sebelumnya, lokasi pesantren Bagu NTB tersebut sudah pernah sukses menjadi penyelenggara munas dan konbes NU saat kepemimpinan Gus Dur ketika pesantren tersebut masih sangat sederhana. Kini, setelah pesantrennya berkembang pesat dengan berbagai lembaga pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi, tentu sangat tepat penyelenggaraan muktamar di Lombok Tengah itu.

Tambahan lagi dengan eksotisme pulau tersebut, seusai muktamar, para muktamirin bisa mengunjungi berbagai obyek wisata yang menarik.

Mengenai calon lokasi muktamar di Medan, kendalanya adalah tempat penyelenggaraan di asrama haji karena belum ada pesantren yang representatif.

Tentang keinginan Jawa Timur yang sudah 11 kali menyelenggarakan muktamar, hal ini tidak banyak berarti lagi untuk pengembangan NU karena disitu memang lumbungnya NU, seperti nguyahi segoro (menggarami laut).

Ia menginginkan, NU menyebar ke seluruh penjuru Nusantara, tidak terpusat di Jawa, apalagi Jawa Timur. “Saya menginginkan seluruh Nusantara NU-nya sama besar dan itu memerlukan kesadaran kita untuk berupaya bagaimana kalau perhelatan-perhelatan NU yang bersifat nasional dan akbar diselenggarakan di luar Jawa.”

Sebetulnya potensi NU di luar Jawa cukup besar, tetapi karena selama ini kurang disapa, akhirnya ya melempem. Ia memberi contoh, ketika Makassar diputuskan sebagai lokasi muktamar, NU-nya langsung bergerak dan sampai sekarang terus berkembang. Terbukti, PWNU Sulawesi Selatan mampu membangun gedung kantor NU lima lantai yang lengkap dengan gedung pertemuan yang bisa disewakan.

“Saya kira ini tidak bisa dibantah merupakan barokahnya muktamar di Makassar,” jelasnya.

Sumber: NU Online


EmoticonEmoticon