Bincang PWNU Jabar dengan Slamet Effendy Sesaat Sebelum Wafat


Bandung, Kepergian tokoh NU, KH Slamet Effendy Yusuf mengagetkan banyak pihak termasuk Wakil Ketua PWNU Jawa Barat, Kiagus Zaenal Mubarok. Bagi Kiagus yang bersama Kiai Slamet sore hingga malam sebelum almarhum wafat menilai, sosoknya sangat inspiratif terutama dalam hal pemikiran, komunikasi dan sebagai organisatoris.

"Saya merasa kehilangan senior. Baru saja sore kami diundang dan berbincang-bincang tentang banyak hal, tetapi malamnya Mas Slamet meninggalkan kita," ujarnya kepada NU Online.

Menurut Kiagus, sebelum Ketua PBNU itu meninggal, dirinya bertemu di Hotel Ibis Style, kawasan Braga Kota Bandung. Ia diundang almarhum karena ada waktu kosong. Lalu ia mengajak sahabatnya, Faiz Manshur dari Nuindo Institute dan Asep Hadian Permana, Ketua Pagar Nusa Kota Bandung menjumpai mantan ketua GP Ansor itu. Di hotel itu Kiagus berbincang panjang lebar dari pukul 17:00 hingga pukul 18:30.

"Kami berbincang tentang problem Islam radikal, problem organisasi PWNU Jabar, masa depan Islam Nusantara, dan sejumlah strategi pergerakan agar umat Islam memiliki karakter keislaman dan keindonesiaan yang rahmatan lil alamin. Nah, salahsatu impian Mas Slamet adalah tahun depan PBNU melaksanakan niat mengundang tokoh-tokoh agama dunia berkumpul di Indonesia dan beliau ingin banyak karya Islam Nusantara diterjemahkan dalam bahasa asing," kisahnya.

Sehabis shalat maghrib berjamaah, Kiagus bersama rekannya pamit karena almarhum mengatakan ada acara bertemu dengan Gubernur. Pagi harinya ia mendapatkan informasi kalau seniornya tersebut meninggal.

Karakter Slamet Effeendy Yusuf dalam pandangan Kiagus Zaenal Mubarok, karakter dari sosok Almarhum yang patut diteladani antara lain:

1) Berpikir inklusif dan moderat. Membawa agama dengan rendah hati tapi berbasis pemikiran yang kuat. Rajin belajar tanpa kenal waktu. Banyak baca buku, banyak baca kitab, hobi diskusi.

2) Bergaul lintas golongan, lintas generasi, tanpa sekat. Menjadikan semua sebagai teman. Identitas agama, suku atau kepartaian bukan suatu penghambat.

3) Berpikir kritis menyampaikan pendapat dan berani mengatakan ini salah dan ini benar tanpa harus memaki, menghina apalagi memfitnah.

4) Sabar dalam perbedaan. Kalau ada orang yang tidak sama pikiran, atau bahkan sering menyerang paham yang kita anut bukan lantas diserang dengan kekerasan tapi justru dicoba dihubungi, digauli dan dijadikan teman dengan harapan bisa berubah pemikirannya.

5) Berani menyampaikan pendapat dengan menerima resiko ditolak. Ia tidak takut gagasannya ditolak karena selalu punya alasan yang objektif sehingga kejujurannya tidak membuat dirinya terbatasi atau tertekan saat pandangannya ditolak.

6) Sabar dan betah menjadi aktivis sampai usia lanjut. Itulah mengapa seusia lewat 60 tahun pun masih nampak muda. Ikon GP Ansor begitu melekat, perlente dan nampak bahagia di mana pun berada. Ia punya aura yang segar dan menyenangkan. Tipikal muslim ramah. Dan tak lupa, ia suka sekali humor, sebagaimana tipikal kaum cerdik-cendekia.

"Selamat jalan senior. Semoga Allah Swt membukakan pintu surga untukmu. Bakti dan ilmumu pada bangsa ini sangat besar," tutur Kiagus. (Yus Makmun/Fathoni)

Keterangan foto: Alm KH. Slamet Effendy Yusuf (tengah), Kiagus Zaenal Mubarok (kiri) dan Faiz Manshur (Kanan) berfoto di Hotel Ibis Style Braga Bandung beberapa jam sebelum KH Slamet Effendy wafat).

Sumber: NU Online


EmoticonEmoticon