Puslitbang Kemenag Dorong Santri Kembangkan Riset Ilmiah


Tangerang Selatan, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kementerian Agama HM Hamdar Arraiyyah membuka secara resmi seminar hasil pengembangan Karya Tulis Ilmiah Santri (KTIS). Seminar digelar di Kampus Pusdiklat Administrasi Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (1/12) malam.

Kegiatan yang melibatkan sepuluh santri yang lolos nominasi KTIS dan perwakilan guru pesantren ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 1-3 Desember 2015. Selain para guru, juga hadir para peneliti di lingkungan Puslitbang Penda dan 60 undangan dari berbagai instansi.

Di hadapan peserta seminar, Hamdar Arraiyyah menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para santri dan pembimbing yang aktif dan kolaboratif dalam riset tersebut. “Tanpa kerja sama yang baik antara kedua pihak tentu sulit sekali mengembangkan riset ini,” ujarnya.

Menurut Hamdar, penelitian itu merupakan gabungan antara teori dan praktik. Untuk menjadi peneliti yang baik, tentu harus rajin membaca buku, hasil penelitian, dan berbagai informasi terkait objek riset. “Setelah itu baru melakukan penelitian. Saya kira ini harus diperhatikan,” tegasnya.

Hamdar berharap, santri penulis ini pada perkembangan riset berikutnya bisa lebih mandiri. Oleh karenanya, seminar tersebut diharapkan mampu memberi satu pengalaman tak terlupakan bagi para santri. “Kami berharap pengalaman yang didapat dari kegiatan ini menjadi bekal riset di masa mendatang,” harapnya.

Pria asal Sulawesi Selatan ini menceritakan, saat dirinya masih seusia para santri yang lolos KTIS, juga telah terlibat dalam penelitian. Saat itu, sekira tahun 1990-an sebagian peserta tergugah dan termotivasi untuk menjadi peneliti sungguhan. “Waktu itu, kami senang sekali bisa ketemu para profesor seperti Kuntowijoyo, Kuncoroningrat, dan yang lainnya,” ujar Hamdar bangga.

Masih kata Hamdar, di pesantren terdapat banyak nilai yang tumbuh di sana. Di tempat ini dikembangkan ilmu dan amal  secara bersamaan. “Jadi, menurut bahasa para kiai itu ilmu amaly dan amal ilmy. Ternyata di pesantren ada beberapa nilai yang patut diteladani,” paparnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, ada kategorisasi pesantren yang perlu diketahui selain untuk para santri saja juga bagi komunitas yang lain. “Nah, salah satu cara berbagi itu ya melalui tulisan. Jadi, supaya ada daya tariknya kita bisa menuliskan pengalaman yang menarik dengan logika bahasa yang runtut,” tandasnya.

Hamdar menilai bahwa kemandirian merupakan satu hal yang berkembang di pesantren. Para santri patut memperkenalkan nilai-nilai atau aktivitas selama mondok. “Ini sesuatu yang mahal sekali. Saya ingin sikap mandiri para santri ini diekspos agar diketahui banyak orang sekaligus menginspirasi mereka,” ujarnya.

Menurut Hamdar, dalam penelitian itu pelakunya bisa jadi dari luar. Kini santri sebagai orang dalam sendiri yang melakukan penelitian. Untuk itu, ia berpesan agar para santri penulis muda bisa menikmati aneka kritik dari para narasumber. “Makin banyak kritikan, artinya masukan tersebut justru akan menambah baik tulisan kita," pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Sumber: NU Online


EmoticonEmoticon